Pemerintah temukan potensi sumber migas Blok Singkil-Meulaboh

Pemerintah temukan potensi sumber migas Blok Singkil-Meulaboh

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, meninjau blok migas North Sumatera B (NSB) Klaster 4, Tanah Luas, Aceh Utara, Minggu (22/12/2019). ANTARA/HO.

Ini merupakan hasil dari Joint Study Assessment (JSA) yang dilakukan perusahaan migas asal Singapura, Conrad Petroleum dengan menggandeng Universitas Pembangunan Nasional Veteran dan Frontier Point Ltd dengan menggandeng Universitas Trisakti
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menyebutkan Provinsi Aceh berpeluang mendapat potensi sumber baru migas dari Blok Singkil dan Blok Meulaboh di perairan pantai barat-selatan Aceh.

"Ini merupakan hasil dari Joint Study Assessment (JSA) yang dilakukan perusahaan migas asal Singapura, Conrad Petroleum dengan menggandeng Universitas Pembangunan Nasional Veteran dan Frontier Point Ltd dengan menggandeng Universitas Trisakti," ungkap Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Teuku Mohamad Faisal melalui Kepala Divisi Eksplorasi dan Eksploitasi, Ibnu Hafizh, dalam keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Ibnu Hafizh menyebutkan bahwa kabar menggembirakan ini merupakan bukti bahwa industri hulu migas di Aceh semakin menunjukkan tren positif di mana minat dari perusahaan-perusahaan migas baik dari dalam maupun luar negeri cukup tinggi untuk berinvestasi di provinsi paling barat Indonesia ini.

"Informasi ini dipaparkan dalam presentasi akhir studi bersama di Wilayah Kewenangan Aceh untuk Offshore South West Aceh (OSWA) Blok Singkil oleh Conrad Petroleum dan North West Aceh (ONWA) Blok Meulaboh oleh Frointier Point Ltd melalui video conference pada minggu lalu di hadapan Tim Penawaran Wilayah Kerja (WK) Migas Aceh," ujarnya.

Dalam presentasi disebutkan bahwa Conrad Petroleum Ltd dan Frontier Point Ltd berminat melanjutkan hasil studi bersama ke penawaran langsung untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di area tersebut. Untuk itu, Conrad Petroleum Ltd dan Frontier Point Ltd diminta segera menyampaikan hasil studi dan keputusan atas tindak lanjut joint study tersebut kepada Direktur Jenderal Migas EDSM c/q Tim Penawaran WK Migas Aceh paling lambat selama 14 (empat belas) hari kerja sejak kegiatan presentasi dilakukan pada 26 Juni 2020 lalu.

"Pelaksanaan studi bersama dinyatakan telah selesai baik Conrad Petroleum Ltd maupun Frontier Point Ltd dan telah disampaikan pada presentasi akhir studi bersama mereka kepada Tim Penawaran Migas Aceh yang terdiri dari Pemerintah Pusat diwakili oleh Ditjen Migas, Pemerintah Aceh diwakili oleh Dinas ESDM Aceh, BPMA dan civitas akademik," jelasnya.

Ibnu menyebutkan total potensi di Blok Singkil dengan asumsi P50 adalah sebesar 296 miliar kaki kubik gas (BCF), sedangkan Blok Meulaboh memiliki potensi Minyak Bumi dengan asumsi P50 sebesar 192 juta barel minyak (MMBO) dan potensi gas dengan asumsi yang sama sebesar 1,1 triliun kaki kubik gas (TCF) yang ditangani oleh Frontier Point Ltd.

Berdasarkan hasil studi bersama tersebut, potensi hidrokarbon diyakini berada pada Wilayah Kerja Offshore South West Aceh (Blok Singkil) dengan luas area kerja sebesar 8200 km2 dan Offshore North West Aceh (Blok Meulaboh) seluas area 9200 km2, dengan resiko geologi rata - rata moderate to high risk khususnya di keberadaan source rock.

Baca juga: Gubernur: Aceh miliki wewenang kelola migas Blok B
Baca juga: SKK Migas nilai positif pengeboran sumur di Blok Rokan oleh Pertamina
Baca juga: Repsol targetkan Blok Sakakemang operasional 2023


Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Peluang Industri Migas Indonesia masih besar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar