Riset: 24 persen pekerja swasta beralih jadi mitra GoFood saat pandemi

Riset: 24 persen pekerja swasta beralih jadi mitra GoFood saat pandemi

Ilustrasi - Transaksi kuliner GoFood mendorong jumlah pemesanan dan omzet lebih tinggi untuk mitra UMKM kuliner yang berpartisipasi. ANTARA/HO-GoJek/am.

Mitra GoFood 70 persen memilih bergabung selama pandemi karena ingin bermitra, seperempatnya merupakan pekerja swasta
Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 24 persen pekerja swasta beralih menjadi mitra GoFood selama pandemi COVID-19, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LD FEB) Universitas Indonesia.

“Mitra GoFood 70 persen memilih bergabung selama pandemi karena ingin bermitra, seperempatnya merupakan pekerja swasta,” kata Peneliti LD FEB UI Alfindra Primaldhi dalam diskusi virtual di Jakarta, Senin.

Prosentase pekerja swasta tersebut menempati urutan pertama kategori profesi selain menjadi mitra GoFood selama pandemi untuk mencari penghasilan alternatif dengan menjadi UMKM kuliner digital.

Baca juga: Digitalisasi naikkan transaksi UMKM kuliner hingga 70 persen

Kemudian disusul dengan profesi ibu rumah tangga sebanyak 22 persen, tidak ada pekerjaan lain 17 persen, bapak rumah tangga lima persen, pelajar/mahasiswa empat persen, buruh tiga persen, dan profesional tiga persen.

“Jumlah pengusaha baru juga meningkat, proporsi mitra baru GoFood yang tidak punya pengalaman usaha sebelumnya meningkat hampir dua kali lipat menjadi 43 persen,” kata Alfindra.

Sementara itu sebelum pandemi, mitra yang belum pernah menjalankan usaha dan memutuskan untuk bergabung menjadi mitra usaha GoFood hanya 26 persen dan yang sudah pernah menjalankan usaha 74 persen.

Alfindra menambahkan sebagian besar alasan responden bergabung menjadi mitra GoFood karena pandemi COVID-19.

Baca juga: Menteri Teten Masduki apresiasi konsep "Dapur Bersama GoFood"

“Pandemi COVID-19 jelas menjadi salah satu faktor pendorong orang berusaha, mayoritas mitra baru GoFood sebanyak 71 persen bergabung karena pandemi,” katanya.

Lebih lanjut ia menuturkan dampak pandemi mengakibatkan harga bahan baku meningkat dan pelanggan berkurang bagi UMKM.

Alfindra menyebutkan UMKM mengalami masalah utama produksi adalah peningkatan harga bahan baku sebesar 34-61 persen.

Dia menambahkan UMKM juga mengalami masalah penjualan, khususnya mengalami penurunan pelanggan sebesar 49-73 persen.

“Kondisi PSBB juga berdampak pada proses penjualan, khususnya karena tidak ada kepastian akhir dari PSBB, terjadi pembatasan jam operasional, dan tidak bisa menerima pelanggan di tempat,” katanya.

Baca juga: GoFood catat peningkatan transaksi 20 persen pada masa pandemi

Baca juga: Menkop Teten Masduki dorong pelaku UMKM manfaatkan platform digital

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menjawab keresahan pengemudi ojek daring

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar