Ombudsman RI terima keluhan masyarakat terkait seleksi mandiri PTN

Ombudsman RI terima keluhan masyarakat terkait seleksi mandiri PTN

Dokumem: Anggota Ombudsman RI Ahmad Suaedy dalam konferensi pers hasil pemantauan terkait persiapan pelaksanaan Jaminan Produk Halal (JPH) di Jakarta, Selasa (17/9/2019). ANTARA/Anom Prihantoro/aa.

sedangkan sekarang uang itu hilang. Jumlahnya bisa puluhan dan ratusan juta
Jakarta (ANTARA) - Ombudsman RI menerima sejumlah keluhan dari masyarakat terkait proses seleksi mandiri bagi calon mahasiswa baru yang diadakan oleh beberapa perguruan tinggi negeri (PTN).

Pengumuman seleksi mandiri yang mendahului hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), mengakibatkan pembayaran uang kuliah harus dibayarkan di awal dan tidak bisa dikembalikan.

"Kami menerima keluhan dari beberapa orang tua yang merasa keberatan jika uang kuliah yang telah dibayarkan pada hasil seleksi mandiri PTN tidak dapat dikembalikan ketika calon mahasiswa baru ternyata lolos jalur SBMPTN," ujar Anggota Ombudsman RI Ahmad Suaedy di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Peserta tidak lolos SBMPTN diminta Kemendikbud tetap optimistis

Penerimaan mahasiswa baru dilakukan melalui tiga jalur seleksi yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), SBMPTN, dan seleksi mandiri (SM).

Ketiga jalur ini mempunyai kuota masing-masing, yaitu SNMPTN minimum 20 persen, SBMPTN minimum 40 persen, dan SM maksimum 30 persen.

SNMPTN diseleksi berdasarkan nilai akademik saja atau nilai akademik dan prestasi lainnya yang ditetapkan oleh PTN. Sementara SBMPTN berdasarkan hasil UTBK (Ujian Tertulis Berbasis Komputer) dan kriteria lain yang ditetapkan bersama oleh PTN.

Baca juga: 167.653 peserta lolos SBMPTN 2020

SM diselenggarakan sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh masing-masing PTN. Menurut Ahmad Suaedy, hal ini yang kemudian dapat dijadikan strategi oleh PTN untuk menerima calon mahasiswa baru melalui proses seleksi mandiri dengan ketentuan tersebut.

Hal itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, setelah pengumuman SBMPTN pertama keluar, lalu baru program mandiri dan setelah itu internasional sehingga pembayaran dilakukan setelah keluar SBMPTN.

"Dengan ini mereka tidak kehilangan uang muka yang telah dibayarkan untuk program mandiri, sedangkan sekarang uang itu hilang. Jumlahnya bisa puluhan dan ratusan juta," jelas Suaedy.

Baca juga: Peserta yang lolos SBMPTN diminta mencermati informasi dari PTN

Untuk itu, dia meminta kepada PTN seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Politeknik Bandung (Polban) dan beberapa PTN lainnya untuk membatalkan program pembayaran tersebut.

Pandemi COVID-19 itu telah berdampak bagi sebagian besar aktivitas masyarakat dan membuat perekonomian menjadi lesu.

"Ombudsman memberikan saran kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI melakukan evaluasi dan memberikan sanksi tegas kepada PTN yang memanfaatkan proses seleksi masuk PTN seperti ini," kata dia.

Baca juga: 52 persen pengaduan sembako diterima Ombudsman hingga akhir Juli

Baca juga: Ombudsman beri saran ke Kemensos terkait pengaduan bansos


Selain itu, Ombudsman juga menyarankan agar biaya kuliah yang sudah dibayarkan pada hasil seleksi mandiri dapat dikembalikan oleh PTN jika calon mahasiswa baru tidak melanjutkan kuliahnya pada PTN dengan jalur seleksi mandiri/internasional dan memilih hasil SBMPTN.

Di samping itu Ombudsman juga menyarankan agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI memberikan afirmasi bagi calon mahasiswa yang tidak mampu untuk menjangkau perguruan tinggi.

"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bersama dengan PTN disarankan memperluas kesempatan pendidikan tinggi bagi mereka yang tidak mampu," kata Ahmad.

Baca juga: Kemendikbud harapkan SMM PTN-Barat berikan kesempatan siswa masuk PTN

 

Pewarta: Indriani
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ombudsman Kepri ungkap belum siapnya APD untuk pilkada di Batam

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar