PM Selandia Baru perpanjang 'lockdown' untuk bendung corona

PM Selandia Baru perpanjang 'lockdown' untuk bendung corona

Boneka teddy bear di depan rumah di Auckland, Selandia Baru (Shutterstock)

Wellington (ANTARA) - Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, Jumat, memperpanjang masa lockdown (karantina wilayah) di Auckland, kota terbesar di negara itu, dalam upaya membendung penyebaran virus corona.

Perpanjangan itu merupakan tanggapan terhadap kemunculan pertama COVID-19 dalam beberapa bulan secara nasional.

PM Ardern tetap berpegang pada pendekatan "lebih awal, lebih keras", yang menurutnya terbukti efektif dalam penanganan wabah COVID-19.

Ardern mengatakan karantina wilayah di Auckland, kota berpenduduk sekitar 1,7 juta orang, serta aturan pembatasan sosial di seluruh negeri mulai berlaku pada Rabu (15/8) dan akan berlaku selama 12 hari lagi.

Tindakannya yang cepat itu diambil setelah kasus infeksi COVID-19 muncul pada Selasa (11/8) di sebuah keluarga di Auckland.

Kasus tersebut merupakan yang pertama bagi Selandia Baru dalam 102 hari.

Sejak itu, otoritas telah mengidentifikasi total 29 kasus, semuanya terkait dengan klaster yang sama.

Baca juga: Selandia Baru selidiki kemungkinan transmisi COVID-19 dari kargo

Pembatasan Tingkat 3, yang saat ini diberlakukan di Auckland, mengharuskan sebagian besar warga untuk tetap tinggal di rumah.

Pembatasan Tingkat 2 bagi seluruh wilayah lainnya di negara itu tidak separah karantina wilayah Tingkat 4, yang diterapkan oleh Ardern selama lima pekan pada awal tahun ini.

Ardern mengatakan pengujian genom menunjukkan bahwa wabah terbaru itu merupakan jenis berbeda dari wabah asli yang muncul sebelumnya di Selandia Baru pada awal tahun.

Menteri Kesehatan Chris Hipkins sebelumnya mengatakan hasil pengujian genom menunjukkan bahwa wabah baru virus itu kemungkinan berasal dari Inggris atau Australia.

Sumber: Reuters

Baca juga: Selandia Baru tutup kota terbesar setelah penularan lokal COVID-19

Baca juga: Jacinda Ardern janjikan pekerjaan dalam kampanye "pemilu COVID"

Penerjemah: Tia Mutiasari
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar