Jakarta (ANTARA News) - Pengamat politik, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak perlu reaktif terhadap buku karangan George Junus Aditjondro berjudul "Membongkar Gurita Cikeas" karena secara metodologis buku George itu sangat lemah.

"Buku tersebut tidak didukung akurasi data, bahkan cenderung bagian dari propaganda politik ketimbang karya akademik," katanya di Jakarta, Senin.

Burhanuddin mengatakan, tidak seharusnya SBY menanggapi semua persoalan karena masih banyak urusan lain yang lebih penting. "Tanggapan SBY terhadap buku George itu malah jadi iklan gratis," imbuhnya.

Menurut peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) itu, tanggapan yang tidak proporsional dan memakai alat kekuasan seperti pelarangan dan penarikan buku membuat buku itu semakin diburu.

Selain itu, ia menilai, melalui pidatonya yang menggunakan komunikasi melankolis, SBY seolah-olah ingin mengatakan bahwa saat ini dirinya sedang dikroyok dari delapan penjuru mata angin. "Mulai dari Panitia Angket, LSM BENDERA hingga kalangan intelektual seperti George," katanya.

Ia juga mengatakan, sebenarnya strategi melankolis tersebut bisa menimbulkan sinisme publik karena tidak menjawab substansi persoalan dan cenderung mengalihkan perhatian apalagi jika dilakukan terlalu sering.

"Pidato SBY itu seolah menanggapi George, apalagi dengan pernyataan juru bicara SBY yang terlalu reaktif terhadap buku," tambah Burhanuddin.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009