Artikel

Siasat para perias wajah pengantin hadapi pandemi COVID-19

Oleh Natisha Andarningtyas

Siasat para perias wajah pengantin hadapi pandemi COVID-19

Pengunjung menyaksikan peragaan busana pengantin di pusat perbelanjaan Depok Town Square, Depok, Jawa Barat, Rabu (20/11/2019). (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)

Jakarta (ANTARA) - Industri kecantikan dan tata rias dalam beberapa tahun belakangan kian populer berkat dorongan media sosial.

Lewat media sosial seperti Instagram, para perias wajah, atau populer dengan sebutan make-up artist (MUA) bisa memamerkan hasil karya mereka.

Imbasnya, promosi keahlian mereka bukan hanya dari mulut ke mulut, orang juga bisa langsung melihat seperti apa hasil riasan sang MUA lewat akun media sosial.

Allyssa Hawadi, dalam acara "Bincang Shopee 9.9 Beauty Day: Kreativitas Industri Kecantikan di Tengah Pandemi", Kamis (27/8) bercerita sebelum pandemi, setiap minggu, terutama akhir pekan, hari-harinya diisi dengan merias wajah para pengantin, baik untuk akad atau pemberkatan maupun untuk resepsi.

"Biasanya make-up artist dari jam 2 pagi pun sudah siap-siap untuk merias, kalau itu acara pernikahan," kata Allyssa.

Baca juga: Alasan penting untuk selalu membersikan alat rias

Baca juga: Wabah corona, alat "make up" juga perlu disinfektan


Begitu pandemi, kegiatan yang melibatkan banyak orang atau orang berkumpul terpaksa dihentikan sementara, termasuk untuk pernikahan. Bulan-bulan awal pandemi virus corona di Indonesia, menurut pengakuan Allyssa, banyak orang yang menjadwal ulang rencana pernikahan ke akhir tahun, hingga tahun depan.

Akibatnya, para perias sama sekali tidak mendapat tawaran kerja, terutama mereka yang menangani rias pengantin.

"Ini membuat depresi, bukan stres lagi," kata Allyssa.

Penata rambut profesional Anda Arrusa juga mengalami hal yang sama, meski pun dia mengaku sedikit beruntung karena juga menerima tawaran menata rambut untuk artis dan iklan.

"Kami kaget ya, biasanya penuh, tiba-tiba jadwal ulang semua," kata Anda, di acara yang sama.

Pengalaman yang sama juag dirasakan Fauzia Hanum, yang terjun ke dunia tata rias secara profesional sejak 2011 lalu, pandemi menghentikan kegiatannya merias terutama untuk pernikahan.

"Kami MUA ini benar-benar nggak ada 'job' sama sekali," cerita Hanum.

Baca juga: Penata rias: hanya butuh 15 menit merias Joaquin Phoenix jadi Joker

Baca juga: Trik membersihkan noda kosmetik pada pakaian


Kreativitas baru

Pandemi mungkin berdampak pada pendapatan para penata rias, namun, Hanum menolak kreativitasnya juga lesu karena situasi yang tidak menentu ini.

Sambil berusaha untuk tetap berkegiatan positif, Hanum memanfaatkan waktunya untuk membuat face painting, alias membuat lukisan di wajah, sesuatu yang jarang dilakukan karena hari-harinya penuh untuk merias wajah.

Hasil face painting maupun rias wajah dia unggah di akun Instagram, begitu juga tutorial make-up, diunggah melalui kanal YouTube miliknya.

Bukan tanpa sebab, Hanum ingin memperkenalkan diri lagi sekaligus keahlian yang dimiliki, yang mungkin selama ini luput karena kesibukannya sebagai MUA.

Tiga bulan belakangan, Hanum mengaku rajin memperbarui portofolio digitalnya di media sosial.

"Untuk mengasah tangan juga," kata Hanum.

Menurut dia, masa-masa seperti ini penting untuk mendapatkan hubungan yang baik dengan para pengikutnya. Soal berapa banyak orang yang menonton konten buatannya, menurut dia, bisa dipikirkan belakangan.

"Yang penting itu dulu, aku diingat sama follower. Personal branding," kata Hanum.

Allyssa juga melakukan hal yang sama, waktu kosong selama pandemi dia gunakan untuk mengunggah hasil riasan ke media sosial.

"Ini waktu yang tepat untuk terhubung dengan pengikutku, memperkenalkan diri lagi, bahwa saya MUA, punya keahlian ini," kata Allyssa.

Anda, saat malam hari, juga memperbarui konten di media sosialnya dengan hasil tata rambut yang pernah dia kerjakan dulu.

Dia juga membuat kelas privat, namun, mengingat situasi saat ini, hanya menerima satu orang di kelasnya. Anda memilih untuk tidak membuka kelas online karena tingkat kesulitan tata rambut jika tidak bertemu langsung.

Baca juga: Barbie dan MAC berkolaborasi luncurkan produk "make up"

Baca juga: Begini dandanan Olivia Munn di tangan penata rias Indonesia


PSBB melonggar

Beberapa daerah di Indonesia melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), beberapa kegiatan yang semula dilarang, mulai boleh dilakukan dengan menetapkan protokol kesehatan yang ketat, termasuk untuk pernikahan.

Laman Sekretariat Kabinet memuat panduan mengadakan pernikahan saat pandemi, mengutip Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, bahwa layanan menikah di Kantor Urusan Agama buka pada hari dan jam kerja.

Akad nikah, baik di KUA maupun di rumah, bisa dilakukan dengan jumlah peserta maksimal 10 orang.

Jika pernikahan dilakukan di luar rumah, misalnya di gedung pernikahan, peserta paling banyak 20 persen dari kapasitas ruangan dan tidak boleh lebih dari 30 orang.

Kelonggaran ini juga dirasakan Allyssa, dia mengaku beberapa klien yang semula mengundur pernikahan hingga tahun depan, mulai memajukan kembali tanggal pernikahan mereka ke tahun ini.

"Mereka majukan ke Agustus dan September karena mereka berpikir, ini kapan selesainya," kata Allyssa.

Beberapa waktu belakangan, dia mengaku mendapatkan permintaan merias pengantin hanya satu-dua minggu menjelang hari pernikahan.

Di masa seperti ini, dia biasanya berusaha memberi pemahaman kepada klien untuk tetap menerapkan protokol kesehatan, termasuk untuk mengurangi jumlah tim dokumentasi ketika sedang merias pengantin.

"Dulu (sebelum pandemi) pas merias, ada beberapa fotografer, videografer. Sekarang, jangan terlalu ramai, misalnya hanya ada satu fotografer di ruangan," kata dia.

Sementara Hanum, sejak rajin membuat konten di media sosial, dia mendapat tawaran berkolaborasi dengan para fotografer untuk pemotretan bertema make-up unik dan lucu.

"Karena mungkin jarang MUA punya portofolio make-up lucu," kata Hanum

Baca juga: "Make up artist" dinilai jadi profesi menjanjikan

Baca juga: 5 tren tata rias ini akan ditinggalkan pada 2020


Kekuatan promosi

Hanum dan Anda sama-sama berpendapat profesi ini sangat mengandalkan kekuatan promosi, bukan hanya soal keterampilan merias, tapi, juga tentang sikap sang perias.

"Attitude tetap nomor satu," kata Hanum.

Menurut Hanum, jika memiliki portofolio merias yang bagus, namun, secara sikap sang perias buruk, akan ada penilaian dari mulut ke mulut bagaimana pengalaman menggunakan jasa sang perias.

Anda menyetujui hal tersebut, sebagai seorang penata rambut, dia seringkali berkolaborasi dengan perias wajah maupun rekan sesama penata rambut.

Jika dia melihat di media sosial karya perias atau penata rambut lain, dia tertarik untuk mengetahui pendapat dari orang lain yang pernah bekerja sama dengan sosok tersebut.

"Aku akan tanya ke temanku yang pernah kerja bareng dia, apakah dia baik ke klien, datang terlambat," kata Anda.

Allyssa menambahkan selain promosi, dia secara berkala memeriksakan kesehatannya, termasuk mengikuti tes cepat (rapid test) dan tes usap (swab test) sebelum merias, untuk menjaga kepercayaan klien.

Baca juga: Riasan natural, trend make-up pernikahan saat pandemi

Baca juga: Taeyeon berbagi soal riasan, perawatan kulit dan rutinitas pagi

Baca juga: Tips Archangela Chelsea untuk membuat riasan mata

Oleh Natisha Andarningtyas
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemohon dispensasi nikah di Madiun naik 100 persen

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar