Palembang (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan materi kuliah perdana kepada mahasiswa Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) saat menghadiri puncak Hari Pers Nasional (HPN) di Palembang, Selasa.

Materi kuliah perdana bertajuk "Mengapa Indonesia Harus Berhasil?" itu disampaikan Presiden dihadapan para mahasiswa baru yang berbaur dengan peserta perayaan Hari Pers Nasional di sebuah hotel di Palembang.

Dalam kuliahnya, Presiden menegaskan bahwa Bangsa Indonesia harus mampu mengatasi berbagai macam hal di masa mendatang karena terbukti mampu mengatasi sejumlah krisis yang terjadi dalam satu dasawarsa terakhir.

"Kita telah lulus dalam mengatasi ujian di waktu lalu, oleh karena itu kita harus mampu menghadapi ujian di masa depan menuju Indonesia yang lebih maju di abad 21," kata Presiden.

Menurut dia, dalam 10 tahun terakhir Indonesia lulus menghadapi dua krisis yaitu krisis keuangan 1998 yang berujung pada reformasi kehidupan politik dan krisis global 2008 yang memicu krisis pangan, energi dan iklim.

Kepala Negara mengatakan, krisis membuat perekonomian Indonesia tiarap, dan memicu konflik serta upaya-upaya disintegrasi --bahkan ada pihak yang mengatakan Indonesia akan pecah dan hilang-- namun akhirnya Indonesia mampu mengatasi masa-masa sulit itu.

"Kita survive sebagai bangsa dan mencapai perubahan positif, terjadi kebangkitan kembali dan peningkatan peran Indonesia di dunia internasional," katanya.

Setelah mampu melewati ujian-ujian itu, kata Presiden, Indonesia harus mampu melewati ujian selanjutnya yaitu mewujudkan tiga pilar pembangunan.

Tiga pilar itu adalah meningkatkan perekonomian untuk kesejahteraan rakyat, memantapkan demokrasi dan menegakkan keadilan.

Kepala Negara mengatakan bahwa tidak mudah memprediksikan apakah akan terjadi krisis atau tidak di masa mendatang namun yang pasti ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi Indonesia di kehidupan internasional yaitu polarisasi kekuatan dunia, benturan budaya, perebutan sumber pangan, energi dan air, epidemi serta perubahan iklim.

Oleh karena itu, lanjut dia, seluruh rakyat Indonesia harus menyatukan potensinya untuk mencapai cita-cita mewujudkan pembangunan yang inklusif dan menghadapi semua tantangan itu.

"Indonesia bisa mencapai itu semua karena modal kita banyak, pengalaman kita ada dan momentum kita ada ketika kita berhasil melewati dua krisis di masa lalu," jelasnya.

Pada peringatan puncak HPN itu, Presiden juga menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sekolah jurnalistik, Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), yang digagas kalangan pers, Kementerian Pendidikan Nasional, UNESCO dan Pemerintah Daerah.

Di masa mendatang, diharapkan setiap provinsi akan memiliki sekolah jurnalistik sehingga mendorong perkembangan pers Indonesia lebih baik.

Pada tahap awal, PWI akan membentuk sekolah jurnalistik Indonesia di enam kota yaitu Jakarta, Semarang, Ujung Pandang, Samarinda, Palembang dan Riau.
(L.G003*P008/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010