Bulu tangkis

All England 2021 terancam batal digelar akibat krisis finansial

All England 2021 terancam batal digelar akibat krisis finansial

Ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti meraih gelar juara All England Open 2020 setelah mengalahkan pasangan unggulan ketiga asal Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai dengan skor 21-15, 17-21, 21-8 di Arena Birmingham, Inggris, Minggu (15/3/2020). ANTARA/HO-PBSI/aa. (Handout PBSI)

Kami telah mengalami kerugian pendapatan yang sangat besar yakni 1,75 pound karena tidak adanya penonton saat kejuaraan.
Jakarta (ANTARA) - Turnamen bulu tangkis tertua di dunia All England terancam batal digelar tahun depan karena krisis finansial yang diderita Asosiasi Bulu Tangkis Inggris akibat pandemi COVID-19.

Kepala eksekutif bulu tangkis Inggris Adrian Christy mengatakan kebijakan pemerintah yang melarang kehadiran penonton pada setiap kejuaraan olahraga hingga enam bulan ke depan dapat membuat asosiasinya merugi jika tetap memaksa menggelar All England tahun depan.

“Sayangnya, setelah pengumuman terbaru dari pemerintah, kami melihat adanya kemungkinan jika YONEX All England 2021 tidak dapat digelar untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II,” ujar Christy dalam laman resmi All England Badminton, Selasa.

Baca juga: Praveen/Melati terima bonus Rp450 juta setelah juarai All England

Padahal menurutnya, All England merupakan salah satu ajang olahraga dengan jumlah penggemar yang luar biasa. Kurang lebih 31.000 penonton setiap tahunnya bisa memenuhi National Indoor Arena, Birmingham.

Namun situasi pandemi COVID-19 membuat penyelenggaraan All England 2019 harus digelar tanpa penonton. Praktis, penyelenggara harus kehilangan salah satu sumber pemasukan utama mereka.

Jika situasi COVID-19 belum mereda dan aturan larangan penonton masih berlaku hingga enam bulan ke depan, asosiasi bulu tangkis Inggris merasa tak sanggup jika harus kembali kehilangan pendapatan dari tiket pada kompetisi yang biasa diselenggarakan pada Maret itu.

“Kami telah mengalami kerugian pendapatan yang sangat besar yakni 1,75 juta pound karena tidak adanya penonton saat kejuaraan. Kondisi ini membuat organisasi kami kesulitan untuk bisa bertahan.”

Baca juga: Sepulang dari All England, tim Indonesia jalani karantina 14 hari

Dia pun meminta pemerintah untuk memberikan dukungan finansial sebesar 1 juta pound demi menyelematkan turnamen All England dari pembatalan tahun depan.

“Prioritas utama adalah keberlanjutan bulu tangkis di Inggris, dan All England merupakan bagian utama dari perekomian kami,”

“Maka saya sekarang meminta pemerintah untuk memberikan dukungan finansial sebesar 1 juta pound untuk menyelematkan All England,” pungkasnya.

Apabila All England benar-benar batal digelar tahun depan, maka itu akan menjadi peristiwa bersejarah, menandai untuk pertama kalinya turnamen itu dibatalkan sejak Perang Dunia II.

All England yang sudah diadakan sejak 1899 itu pernah mengalami pembatalan dua kali saat Perang Dunia II.

Baca juga: Ringkasan final All England 2020, Indonesia boyong satu gelar juara

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Cerita The Daddies tanggung pribadi ongkos turnamen 2019 1 M lebih

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar