Jakarta (ANTARA News) - Pimpinan DPRterpecah pasca terjadinya kericuhan dalam rapat paripurna DPR RI di Gedung DPR/MPR Jakarta, Selasa, dengan agenda penyampaian hasil akhir penyelidikan Panitia Angket Kasus Bank Century.

Tiga Wakil Ketua DPR, yaitu Priyo Budi Santoso (Golkar), Pramono Anung (PDIP) dan Anis Matta (PKS), mengakui hubungan mereka dengan Ketua DPR Marzuki Alie kurang harmonis.

Bahkan, menurut Priyo, rapat pimpinan yang semestinya diselenggarakan untuk menyikapi masalah kericuhan rapat paripurna itu juga nyaris tidak jadi dilaksanakan.

Menurut dia, para Wakil Ketua DPR sudah datang ke ruang Ketua DPR untuk rapim mendadak tersebut. "Tetapi karena suasana kurang mendukung dan Ketua DPR justru menyampaikan kekecewaannya (atas putusan rapim mendadak), saya pun langsung bergabung dalam rapat fraksi saya (FPG)," katanya.

Priyo juga menjelaskan bahwa sebelumnya para wakil ketua DPR itu juga telah memberi saran kepada Marzuki Alie untuk menskors rapat paripurna saat terjadi interupsi bertubi-tubi.

"Saya sudah ingatkan ketua, `skor dulu, lobi dulu ketua..` Tetapi rapat langsung ditutup ya sudah," katanya.

Setelah mengetuk palu, kata Priyo lagi, Marzuki langsung meninggalkan ruang rapat paripurna, sementara empat Wakil Ketua DPR tetap duduk di tempat masing-masing dan tidak beranjak.

Akhirnya, keempat Wakil Ketua DPR melakukan pembicaraan singkat agar dilakukan rapat pimpinan untuk menyikapi kericuhan rapat paripurna. Tetapi ketika hasil pembicaraan itu dilaporkan, tidak ada sambutan baik dan Marzuki justru menyatakan kekecewaannya atas upaya penyelamatan tersebut.

Sementara itu, Ketua DPR RI Marzuki Alie menyatakan, pihaknya tidak menyalahi aturan dan Tata Tertib DPR. "Rapat paripurna ini, sudah disampaikan di awal persidangan, ada dua agenda," kata Marzuki.

Agenda pertama adalah pelantikan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. Agenda kedua, penyampaian hasil akhir panitia angket.

"Dua agenda itu sudah terlaksana. Jadi tidak ada agenda lagi, kemudian karena tidak ada agenda lagi, rapat saya tutup," katanya.

Menurut Marzuki, rapat paripurna tersebut memang tidak mengagendakan pengambilan keputusan terhadap laporan akhir panitia angket. Pengambilan keputusan akan dilakukan pada Rabu (3/3).

Mengenai kericuhan dalam rapat paripurna, Marzuki menyayangkan hal itu. Menurut dia, kericuhan terjadi karena anggota DPR tidak bisa tertib.

"Semua maunya `ngomong`. Bersamaan memencet tombol mikrofon, ya mati semua mikrofonnya," kata Marzuki.

Dia mengatakan, mikrofon akan mati seluruhnya apabila empat anggota DPR memencet secara bersamaan.

Marzuki menyatakan, tidak seharusnya pihaknya menjadi tumpuan kesalahan akibat adanya sistem pengeras suara yang mengganggu persidangan, "Masalah mikrofon itu bukan urusan Ketua DPR," katanya.(S023/A024)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010