Kondisi tubuh sangat memengaruhi keluhan dan respons penyakit COVID-19

Kondisi tubuh sangat memengaruhi keluhan dan respons penyakit COVID-19

Dokter Paru Rumah Sakit Persahabatan dr. Andika Chandra Putra saat berbicara dalam sebuah acara PDPI di Jakarta. ANTARA/Katriana/am.

Jakarta (ANTARA) - Dokter paru Rumah Sakit (RS) Persahabatan dr Andika Chandra Putra, Sp.P, PhD, mengatakan kondisi tubuh seseorang saat terpapar COVID-19 sangat memengaruhi keluhan dan respons penyakit tersebut terhadap tubuh.

"Sangat, sangat memengaruhi," kata dr Andika kepada Antara di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan kondisi tubuh seseorang pada saat terkena COVID-19 dapat menimbulkan gejala yang berbeda-beda, bisa ringan, bisa juga berat.

Baca juga: Mata merah, cegukan hingga gangguan otak bisa jadi gejala COVID-19

Baca juga: Presiden berbincang dengan dokter paru-paru soal penanganan COVID-19


Pada seseorang yang memiliki daya tahan tubuh cukup baik, gejala yang akan muncul jika terpapar COVID-19 kemungkinan cenderung ringan hingga tidak ada gejala sama sekali.

Tetapi, pada seseorang yang daya tahan tubuhnya lema  atau pada seseorang yang telah berusia lanjut, atau juga memiliki penyakit komorbid, paparan COVID-19 akan cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat.

"Jadi kita tahu ada 7 organ penting dalam tubuh kita, ada paru, jantung, ginjal, hati, dan ada otak. Ketika memang menyerang salah satu organ itu, bisa menyebabkan keluhan yang berat," kata dia.

Oleh karena itu, pada seseorang yang telah memiliki penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes dan obesitas, gejala yang muncul akibat paparan COVID-19 akan cenderung lebih berat dibandingkan pada orang yang tidak memiliki penyakit penyerta. Begitu juga pada seseorang yang berusia lanjut.

"Jadi kalau diketahui usia di atas 45 tahun atau di atas 40 tahun, juga ada penyakit penyerta yang kita ketahui, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, juga obesitas, jika terkena COVID-19 kebanyakan ada keluhan, keluhannya bisa berat," ujar dr. Andika.

Gejala ringan, sedang hingga berat tersebut, kata Andika, dapat dialami sesuai dengan bagaimana kondisi tubuh merespons paparan COVID-19 dalam tiga fase, yaitu pada fase awal infeksi, fase pulmonary atau fase penyakit memasuki saluran paru-paru dan fase inflamasi.

Baca juga: Dokter paru imbau warga beraktivitas di rumah saat kasus COVID-19 naik

Baca juga: Dokter paru: Pasien COVID-19 rentan terkena happy hypoxia

Baca juga: Perhimpunan dokter paru: Diare salah satu gejala COVID-19


Pada fase awal infeksi, keluhan yang dialami penderita biasanya berupa pilek, sakit tenggorokan hingga pegal-pegal. Jika pada fase tersebut daya tahan tubuh tidak kuat menerima paparan, virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 akan memasuki fase berikutnya, yaitu fase pulmomary atau fase paru.

Pada fase paru tersebut, virus SARS-CoV-2 telah masuk ke saluran paru-paru sehingga dapat menyebabkan pasien mengalami pneumonia, batuk-batuk hingga sesak napas.

Fase berikutnya, yaitu fase inflamasi, juga akan terjadi jika daya tahan tubuh penderita tidak dapat menahan serangan dari virus SARS-CoV-2. Pada fase inflamasi atau peradangan, pasien kemungkinan akan mengalami inflamasi secara sistemik atau seluruh tubuhnya sudah mengalami inflamasi.

"Baru itu lah terjadi badai sitokin (yaitu reaksi berlebih dari sistem kekebalan tubuh), gangguan injury pada liver, ginjal, dan pada jantung," demikian kata dr. Andika.

Pewarta: Katriana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Apakah pasien sembuh bisa menularkan virus corona? Ini penjelasannya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar