2 Warga China Yang Diculik di Afghanistan Dibebaskan

Kunduz, Afghanistan (ANTARA News/Reuters/AFP) - Dua insinyur China yang bekerja pada proyek pembangunan jalan di Afghanistan utara dibebaskan beberapa bulan setelah diculik, kata seorang pejabat pemerintah provinsi Afghanistan, Minggu.

Ahmad Jawad Bedaar, juru bicara gubernur provinsi Faryab, mengatakan, insinyur-insinyur itu ditahan sekitar tiga bulan dan dibebaskan dalam sebuah operasi penyelamatan Sabtu.

Ia menyatakan tidak ada uang tebusan yang dibayar namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai pembebasan itu dan tidak mengidentifikasi orang-orang yang menculik warga China itu.

Penculikan warga asing dan orang Afghanistan dengan tuntutan uang tebusan menjadi ancaman serius di daerah-daerah pedesaan Afghanistan. Taliban juga mengajukan tuntutan politis dalam sejumlah kasus penculikan.

Insinyur-insinyur China itu bekerja pada proyek pembangunan jalan di Faryab, Afghanistan baratlaut. China memiliki sejumlah proyek ekonomi di Afghanistan, termasuk pertambangan tembaga bernilai milyaran dolar.

Sementara itu, Minggu, serangan bom bunuh diri di Afghanistan selatan menewaskan empat orang, yang merusak masa tenang di sebuah kawasan dekat lokasi operasi militer terhadap gerilyawan Taliban.

Pelaku, yang berjalan kaki dan memakai rompi peledak, menyerang sekelompok aparat keamanan ketika mereka berdiri di sebuah pasar, kata juru bicara pemerintah provinsi Zabul, Mohammad Jan Rasoulyar.

Dua aparat keamanan dan dua warga sipil tewas dalam serangan itu, kata kementerian dalam negeri dalam sebuah pernyataan.

Menurut pernyataan itu, 12 orang lain cedera dalam serangan tersebut.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Saat ini terdapat lebih dari 120.000 prajurit internasional, terutama dari AS, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.

Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO berkekuatan lebih dari 84.000 prajurit yang berasal dari 43 negara, yang bertujuan memulihkan demokrasi, keamanan dan membangun kembali Afghanistan, namun kini masih berusaha memadamkan pemberontakan Taliban dan sekutunya.

Kekerasan di Afghanistan mencapai tingkat tertinggi dalam perang lebih dari delapan tahun dengan gerilyawan Taliban, yang memperluas pemberontakan dari wilayah selatan dan timur negara itu ke ibukota dan daerah-daerah yang sebelumnya damai.

Delapan tahun setelah penggulingan Taliban dari kekuasaan di Afghanistan, lebih dari 40 negara bersiap-siap menambah jumlah prajurit di Afghanistan hingga mencapai sekitar 150.000 orang dalam kurun waktu 18 bulan, dalam upaya baru memerangi gerilyawan.

Sekitar 520 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun itu sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer. (M014/K004)

Pewarta: kunto
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Bisnis peralatan rumah tangga bekas menjamur di Afghanistan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar