Produk asuransi jiwa dan kesehatan jadi tren 2021 di tengah pandemi

Produk asuransi jiwa dan kesehatan jadi tren 2021 di tengah pandemi

Nasabah mendapat penjelasan dari customer service perihal produk Manulife Value Protector Absolute (MVPA) yang masih menjadi favorit konsumen, karena memiliki manfaat tambahan untuk nasabah. ANTARA/HO.

Masyarakat umumnya tetap memerlukan perlindungan jiwa, kesehatan, dan perencanaan pensiun
Jakarta (ANTARA) - Produk asuransi jiwa dan kesehatan diprediksi masih menjadi tren 2021 seiring  kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan diri dan keluarga di tengah pandemi COVID-19.

"Masyarakat umumnya tetap memerlukan perlindungan jiwa, kesehatan, dan perencanaan pensiun sehingga membuat perusahaan asuransi berlomba-lomba menawarkan proteksi terbaik untuk konsumennya," kata Head of Product PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Richard A Sondakh dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Menurut Richard, Manulife Indonesia sebagai salah satu perusahaan asuransi jiwa di Tanah Air selalu berusaha memberikan penawaran produk yang terbaik untuk para konsumennya.

Salah satu di antaranya Manulife Value Protector Absolute (MVPA) yang menjadi produk favorit konsumen. Terbukti, pada akhir 2020, produk MVPA ini mampu mencatatkan jumlah polis sebanyak 45.000 unit dengan nilai pertanggungan dasar sebesar Rp21 triliun.

Ia mengatakan produk MVPA ini telah menjadi andalan Manulife Indonesia sejak 2014 hingga saat ini.

Richard Sondakh menjelaskan, untuk bisa membeli produk ini pemegang polis minimum harus berusia 18 tahun dan maksimum berusia 70 tahun dengan premi terendah sebesar Rp4 juta per tahun.

Sebagai ilustrasi, jika konsumen dengan usia 30 tahun memilih premi sebesar Rp5 juta per tahun maka ia bisa mendapatkan uang pertanggungan sebesar 130 kali premi atau sebesar Rp600 juta.

Selain perlindungan jiwa, pemegang polis produk ini juga bisa mendapatkan manfaatkan tambahan yang dapat dipilih sesuai kebutuhan konsumen.

Salah satu manfaat tersebut adalah Manulife Crisis Cover Ultimate (MCCU) atau Manulife Crisis Cover Protection (MCCP) yang memberikan manfaat perlindungan hingga sebesar 100 persen uang pertanggungan bila tertanggung didiagnosis menderita salah satu dari 56 penyakit kritis hingga usia 99 tahun (MCCU) atau 50 penyakit kritis hingga usia 75 tahun (MCCP).

Manfaat tambahan lainnya yang dapat dipilih konsumen, yakni Manulife Medicare Plus (MMP) yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan keuangan pemegang polis atau keluarganya karena harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat penyakit atau kecelakaan. Pilihan jangka waktu program ini yakni 5, 10, 15, dan 20 tahun.

Baca juga: Ekonomi belum pulih, Manulife fokus proteksi kesehatan nasabah


Klaim COVID-19

Pada tahun 2020, Manulife Indonesia telah membayarkan klaim sebesar Rp5,5 triliun (un-audited) atau sama dengan Rp15 miliar per hari atau Rp631 juta per jam.

Hingga 16 Februari 2021, Manulife Indonesia telah membayarkan klaim COVID-19 senilai lebih dari Rp144 juta (meliputi polis asuransi individu dan kumpulan).

Secara terpisah, salah seorang nasabah Manulife Indonesia, Anwar Apnillah mengatakan sangat bersyukur memiliki polis asuransi Manulife.

Hal ini dia rasakan saat harus dirawat selama 21 hari di rumah sakit karena terkena COVID-19.

Pemegang polis MiUltimate HealthCare (MiUHC) ini mengakui selama ia dirawat, biaya rumah sakit sebesar Rp140 juta ditanggung oleh Manulife Indonesia sehingga ia bisa fokus untuk pemulihan kesehatannya.

Sementara itu, pengamat asuransi Irvan Rahardjo mengatakan sepanjang tahun 2021 banyak pelaku industri asuransi jiwa yang menawarkan produk uang mencakup perlindungan kesehatan akibat COVID-19.

Hal tersebut mendorong permintaan konsumen terhadap produk asuransi yang memberikan perlindungan tambahan terhadap Covid-19 juga ikut naik.

"Penjualan produk asuransi kesehatan tahun lalu meningkat sekitar 20 persen," ujarnya.

Pada 2021, Irvan optimistis tren penjualan produk asuransi jiwa, termasuk proteksi kesehatan, meningkat dibanding tahun lalu.

Penjualan produk kesehatan tahun 2021 diperkirakan tumbuh sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan produk asuransi jiwa meningkat sekitar 15 persen.

Baca juga: Pemerintah dorong perusahaan asuransi berinovasi dengan teknologi
Baca juga: Pandemi COVID-19 jadi akseleran adopsi teknologi industri asuransi


Pewarta: Royke Sinaga
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar