Anggota DPR dorong optimalisasi penambangan nikel untuk kesejahteraan

Anggota DPR dorong optimalisasi penambangan nikel untuk kesejahteraan

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mulyanto. ANTARA/Dok. Humas PKS/am.

Ini penting, bukan hanya dalam rangka menangkap peluang pasar perdagangan nikel, namun juga bagi sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat atas pengelolaan sumber daya alam ini
Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR Mulyanto mendorong agar optimalisasi aktivitas penambangan nikel di berbagai daerah dapat dilakukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia tetapi harus dimaksimalkan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

"Ini penting, bukan hanya dalam rangka menangkap peluang pasar perdagangan nikel, namun juga bagi sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat atas pengelolaan sumber daya alam ini," tegas Mulyanto dalam rilis yang diterima di Jakarta, Rabu.

Mulyanto menambahkan sumber daya nikel yang besar terkandung di dalam bumi Indonesia, ini harus dikelola secara efisien agar dapat memberi nilai tambah lebih tinggi sehingga dapat mendatangkan efek berganda terhadap pembangunan nasional yang semakin besar pula.

Meski begitu, Mulyanto meminta pemerintah membuat perencanaan dan aturan yang ketat terkait pengelolaan nikel ini. "Jangan sampai sumber daya alam yang dimiliki ini habis dieksploitasi tapi tidak memberi manfaat bagi kemakmuran rakyat banyak," katanya.

Pemerintah, ujar dia, harus menjamin bahwa booming nikel ini mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat, bukan hanya menyejahterakan segelintir pengusaha smelter, apalagi jika malah mendatangkan kerusakan lingkungan.

Untuk itu, ia menginginkan agar pemerintah harus dapat mengelola penambangan dan pengolahan nikel agar semakin efisien dan ramah lingkungan, termasuk dalam aspek pembuangan limbah nikel ke laut.

Menurut data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2019 mencatat bahwa Indonesia rupanya negara produsen dan penyumbang kebutuhan Nikel terbesar dunia. Dari total produksi Nikel dunia yang berjumlah 2,668 juta ton Ni, Indonesia ternyata menyumbang sekitar 800 ribu ton Ni dalam kurun waktu sepanjang tahun 2019.

Jumlah tersebut secara otomatis menobatkan Indonesia sebagai negara produsen bijih nikel terbesar di dunia. Disusul oleh Filipina dengan jumlah 420.000 ton Ni, Rusia 270.000 ton Ni, dan Caledonia 220.000 ton Ni.

Tercatat hingga Juli 2020, total neraca sumber daya bijih Nikel Indonesia mencapai 11,88 miliar ton, sedangkan total sumber daya logam nikel sebesar 174 juta ton. Sumber daya ini tersebar di tiga provinsi yaitu di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.


Baca juga: Kementerian ESDM lelang blok tambang nikel Suasua
Baca juga: Petani rumput laut di Sultra protes limbah tambang nikel
Baca juga: Kayu hitam yang tumbuh di antara tambang nikel

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Gubernur kembali izinkan 500 TKA China masuk Sultra

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar