GPMT: Impor pakan berdampak ke petani-peternak

GPMT: Impor pakan berdampak ke petani-peternak

Petani mengeringkan jagung yang akan dipanen di Desa Handapherang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (10/7/2020). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/agr/wsj.

Ada sekitar lebih dari 12 juta keluarga petani dan peternak yang bergantung kehidupannya pada industri pakan ternak
Jakarta (ANTARA) - Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menyebutkan wacana impor pakan ternak dan ayam dari Brazil akan berdampak pada petani jagung dan peternak ayam lokal.

Ketua Umum GPMT Desianto Budi Utomo dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa kebijakan importasi pakan ternak akan sangat masif terhadap industri pakan nasional yang sudah lebih dari 50 tahun swasembada pakan.

"Multiplier effects dari importasi pakan terhadap industri bisa meluas ke subsektor lainnya, seperti petani jagung, peternak, dan pedagang ayam baik ayam petelur
maupun pedaging, tenaga kerja budi daya ayam, dan bahan pakan lainnya," katanya.

Menurut Desianto, ada sekitar lebih dari 12 juta keluarga petani dan peternak yang bergantung kehidupannya pada industri pakan ternak.

"Belajar dari kasus importasi ayam di Filipina, sekali masuk daging ayam ke negara tersebut untuk test injury impact telah menyebabkan industri ayam di Filipina collapse dan hingga sekarang ini tidak bisa bangkit lagi. Akan menjadi trigger untuk importasi ayam dengan dasar pemikiran bahwa harga ayam impor (Brasil) lebih murah," kata Desianto.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Syailendra mengatakan ada kemungkinan importasi daging ayam dari Brasil yang lebih murah dikarenakan harga daging ayam terus tinggi.

Harga pakan ternak di lapangan saat ini berkisar di rentang Rp7.000-7.800 per kg, dengan harga rata-rata Rp7.300 per kg. Harga bahan baku utama pembuatan pakan baik jagung lokal maupun impor hingga saat ini terus meningkat.

Saat ini rata-rata penyerapan jagung dari anggota GPMT adalah di bawah tujuh juta ton per tahun, dengan asumsi pemakaian jagung dalam formula pakan adalah sebesar 40 persen.

Pemakaian jagung untuk beberapa jenis pakan idealnya ada di rentang 50 persen, bahkan untuk jenis pakan tertentu pemakaian jagung dalam formula pakan bisa lebih dari 50 persen.

Sementara kecukupan jagung untuk industri pakan saat ini mengalami penurunan yaitu hanya tersedia untuk kurun waktu 32-35 hari. Idealnya kecukupan ketersediaan jagung pada industri pakan untuk kurun waktu dua bulan.

Saat puncak panen pada Maret dan April, harga jagung terus melambung. Desianto mengatakan saat ini di sentra penghasil jagung bisa mencapai Rp6.100 per kg dengan kadar air 15 persen, sedangkan harga acuan dalam Permendag No. 07 Tahun 2020 sebesar Rp4.500 per kg.

Baca juga: Bungaran Saragih: RI potensi ekspor jagung jika kendalikan mikotoksin
Baca juga: Rektor IPB: rumput laut dan limbah sawit bisa jadi pakan ternak
Baca juga: Pakar minta ada evaluasi regulasi mengenai prediksi bibit ayam petelur

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Panen lele produktif dan efisien, dengan alat pakan otomatis 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar