Artikel

Sosok Bachder Djohan Buddin, nakhoda Sucofindo dalam mengawal TKDN

Oleh Faisal Yunianto

Sosok Bachder Djohan Buddin, nakhoda Sucofindo dalam mengawal TKDN

Direktur Utama PT Sucofindo (Persero) Bachder Djohan Buddin. ANTARA/HO-Sucofindo.

Jakarta (ANTARA) - Pada era persaingan bebas dan digitalisasi saat ini pelaku usaha hendaknya jangan selalu berpikir ingin mengambil untung besar dalam waktu cepat tetapi justru tidak mampu bertahan dalam jangka panjang. Lebih baik pengusaha memilih konsisten untuk menghasilkan produk berkualitas dan kompetitif sehingga usaha yang dijalankan bisa berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan secara lugas oleh Bachder Djohan Buddin, Direktur Utama PT Superintending Company of Indonesia (Persero), Badan Usaha Milik Negara yang selama ini dikenal dengan nama PT Sucofindo.

Dunia usaha memang sudah melekat dalam diri Bachder Johan. Jauh sebelum dipercaya memimpin Sucofindo, pengidola tokoh spiritual asal Tibet Dalai Lama ini sudah mengawali karirnya sebagai pengusaha. Pengalaman sebagai ketua umum di berbagai organisasi bisnis dan usaha kian memperkuat insting bisnisnya.

Dia mengakui bahwa tidak ada garis keturunan sebagai pengusaha, karena ayahnya seorang pegawai atau karyawan. Namun karena Bachder besar di organisasi, jiwa entrepreneur dalam dirinya terus diasah. Bachder memang dikenal aktif berorganisasi sejak muda. Sederet posisi pimpinan organisasi pernah diembannya, mulai dari Ketua Umum Ikatan Konsultan Indonesia (Inkindo) Sulawesi Selatan 1993 - 1997 hingga menjadi Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sulawesi Selatan.

Pria kelahiran Makassar 8 September 1955 ini menjadi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sulawesi Selatan periode 1994-1997. Tidak berhenti di situ, dia juga menjadi Bendahara Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulawesi Selatan 1995 - 1998. Organisasi lainnya adalah Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah (LPJKD) Sulawesi Selatan dan Indonesian China Business Council (ICBI).

Bachder pernah menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) Inkindo selama tiga periode berturut-turut dari tahun 2002 hingga 2014. Sementara di Kadin, Bahcder menjabat Ketua Komite Tetap Koordinasi Pengembangan Investasi, SDA, dan UKM periode 2015 - 2020. Sebelum menjadi Direktur Utama PT Sucofindo (Persero), Bachder menduduki posisi Direktur Utama PT Kawasan Industri Makassar (Persero) selama periode 2007 – 2014.

Pengalaman di banyak organisasi tentu saja menjadi referensi bagi Bachder serta memberikan support terhadap setiap perusahaan yang dia pimpin termasuk di Sucofindo. Sebagai surveyor independen yang ditunjuk pemerintah untuk melaksanakan kegiatan verifikasi TKDN, Sucofindo tentunya berkepentingan terus mendorong pelaku usaha termasuk UMKM, agar secara konsisten meningkatkan dan menjaga kualitas produknya.

Menurut nakhoda Sucofindo sejak 2014 ini, perlu langkah revolusi secara tuntas dalam meningkatkan daya saing produk lokal. Salah satu langkah untuk menjaga kualitas produk lokal dapat melalui penerapan standard nasional Indonesia (SNI).

“Kalau bicara revolusi, maka butuh perjuangan. Perjuangan pasti membutuhkan pengorbanan yang memakan biaya besar sehingga selanjutnya tidak akan menghasilkan produk abal-abal. Persaingan membutuhkan waktu dan pengorbanan sampai masyarakat bangga menggunakan produk dalam negeri karena kualitasnya,” ujar Bachder, Sabtu (19/6).

Sejak berdiri pada 1956, Sucofindo menjadi perusahaan jasa yang memberikan layanan testing (pengujian), inspection (inspeksi) dan certification (sertifikasi), termasuk untuk kegiatan sertifikasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 57 tahun 2006. Regulasi TKDN bertujuan untuk menyejahterakan rakyat melalui kekuatan perekonomian dari bawah, yaitu peningkatan penggunaan produk dalam negeri serta mengurangi ketergantungan produk impor melalui optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN.

Ia menegaskan Sucofindo sebagai lembaga independen yang ditunjuk oleh pemerintah dalam melakukan verifikasi TKDN, selalu berkomitmen tinggi dalam mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang dicanangkan oleh pemerintah.

Saat ini terdapat 18 kelompok barang yang sudah dilakukan sertifikasi TKDN di antaranya bahan penunjang pertanian, mesin dan peralatan pertanian, mesin dan peralatan pertambangan, mesin dan peralatan migas, alat berat, mesin dan peralatan pabrik serta kelistrikan.

“Kami sudah mengawal sertifikasi TKDN sejak 2006 sampai sekarang dengan reputasi yang baik, peningkatan kompetensi dan dukungan SDM yang andal,” ujar alumni Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin.

Kendati harus berjibaku dengan situasi pandemi COVID-19, Bachder menegaskan bahwa pihaknya tetap memberikan pelayanan terbaik dengan mengedepankan profesionalisme dan kualitas dengan bekerja secara tim.

“Saya berpikir kami tidak terpengaruh oleh pandemi, pendapatan Sucofindo tetap tumbuh. Prinsip hidup saya adalah kalau kapal sudah berlayar, jangan coba panggil untuk kembali ke dermaga, karena pasti akan patah kemudinya. Jadi, kalau sudah jalan, jangan harap kau suruh saya kembali, saya harus jalan terus.”

Sertifikasi meningkat

Bachder mengakui bahwa kondisi pandemi sangat mempengaruhi iklim usaha di Indonesia membuat banyak sektor-sektor usaha yang tidak bisa bertahan. Untuk mempertahankan keberlangsungan usaha, Sucofindo melakukan proses "continuous improvement" pada semua lini usahanya.

Upaya berkelanjutan dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki pelayanan maupun proses. Apalagi pengurusan sertifikat TKDN selama masa pandemi justru meningkat secara signifikan. Pada tahun 2021 ini, Sucofindo melaksanakan program Sertifikasi TKDN berbayar pemerintah.

Berdasarkan data P3DN Kementerian Perindustrian, jumlah sertifikat yang terbit periode 2019–2021 mencapai 5.648 sertifikat dengan perincian pada tahun 2019 terdapat 1.207 sertifikat, 2.462 sertifikat pada 2020, dan Januari – Mei 2021 terdapat 1.979 sertifikat.

“Pada 2021 terjadi peningkatan permintaan sertifikat TKDN, Sucofindo sebagai salah satu surveyor independen yang ditugaskan oleh pemerintah dalam melakukan verifikasi TKDN akan terus berkomitmen untuk melayani dan mendukung program pemerintah tersebut,” katanya.

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini hanya 6.240 sertifikat yang masih berlaku (41,64 persen) dari total 14.985 sertifikat. Ini menjadi tantangan Sucofindo untuk selalu melakukan sosialisasi kebijakan TKDN dan mengajak produsen untuk melakukan sertifikasi TKDN terhadap produknya.


Baca juga: IHLC - Sucofindo sepakat bangun ekosistem industri halal di tanah air
Baca juga: BPJPH tetapkan SUCOFINDO sebagai Lembaga Pemeriksa Halal
Baca juga: Kementerian BUMN apresiasi standardisasi mutu Sucofindo

 

Oleh Faisal Yunianto
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menperin ajak industri sertifikasi TKDN

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar