Dokter Anak: Peran orang tua penting cegah anak terinfeksi COVID-19

Dokter Anak: Peran orang tua penting cegah anak terinfeksi COVID-19

Dokter Spesialis Anak Semen Padang Hospital (SPH) dr. Dhina Lydia Lestari, M.Biomed, Sp. A (ANTARA/HO-SPH)

orang tua harus proaktif mengawasi dan memastikan anak menerapkan protokol kesehatan
Padang (ANTARA) - Dokter Spesialis Anak Semen Padang Hospital (SPH) dr. Dhina Lydia Lestari, M.Biomed, Sp. A mengemukakan peran orang tua penting dalam mencegah anak terinfeksi COVID-19.

"Saat ini, angka kasus positif COVID-19 kembali meningkat di berbagai daerah di Indonesia. Selain menular pada orang dewasa, virus corona juga dapat menular pada anak-anak, karena itu orang tua harus proaktif mengawasi dan memastikan anak menerapkan protokol kesehatan," kata dia di Padang, Rabu.

Menurutnya, sejak awal masuknya COVID-19 ke Indonesia, sudah ada anak-anak yang terpapar virus tersebut. Namun kasus tersebut sempat menurun pada akhir tahun dan kembali mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir meningkat lagi.

Baca juga: Vaksinasi ibu hamil hingga anak 12-17 tahun di Kepri dimulai Juli

"Tapi sejauh ini, dari pantauan kami di SPH, angka dari kasus positif COVID-19 pada anak tidak begitu mencolok. Dari delapan kasus yang positif, satu dari jumlah tersebut merupakan anak-anak," katanya

Dalam upaya mencegah penularan virus tersebut pada anak perlu peran penting orang tua untuk mengaja anak dan seluruh anggota keluarga agar tetap di rumah saja.

"Penjagaan anak agar tidak tertular harus diperhatikan, terutama bagi anak-anak di bawah usia lima tahun yang sedang dalam masa tumbuh kembang, sehingga rentan tertular berbagai penyakit termasuk COVID-19," ujarnya.

Kemudian, jika terpaksa keluar rumah, ia mengimbau orang tua memastikan anak dibekali dengan Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, face shield dan rajin mencuci tangan setiap habis menyentuh benda apapun, terutama saat berada di kondisi keramaian.

Baca juga: 70 kasus aktif COVID pada anak ditemukan di Kabupaten Tangerang

Jika anak terpapar COVID-19 maka gejala yang dirasakan hampir sama dengan yang dirasakan oleh orang dewasa, namun mereka tidak mampu untuk memaparkan dengan jelas tentang apa yang dirasakannya.

Namun orang tua dapat melakukan skrining awal pada anak seperti jika mengalami demam dengan suhu tubuhnya mencapai hingga 38 derajat Celcius, hingga gangguan pernapasan seperti batuk, pilek hingga sesak napas.

"Kemudian ada gejala lain COVID-19 yang berkembang seperti gangguan saluran cerna, seperti mual, muntah bahkan mencret. Hal itu merupakan gejala dari varian COVID-19 Delta asal India, bukan gangguan saluran pernapasan tapi menyerang saluran pencernaan," katanya.

Baca juga: ITAGI tunggu hasil uji klinik untuk rekomendasikan vaksinasi pada anak

Untuk mencegah penularan COVID-19 pada anak, belum ada vaksin yang dapat diberikan kepada anak-anak usia di bawah 11 tahun. Tapi untuk anak dengan usia 12 - 17 tahun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pusat telah merekomendasikan untuk pemberian vaksin COVID-19 dengan rentang usia tersebut.

Karena tidak bisa mendapatkan vaksin, orang tua dari anak-anak di bawah usia 11 tahun dapat mencoba melindungi diri agar anaknya tidak tertular virus corona dengan meningkatkan imunitas tubuh anak lewat memakan makanan yang sehat, istirahat yang cukup, APD, cuci tangan dan memberikan multi vitamin yang dapat meningkatkan imunitas.

Baca juga: Aktivis PATBM ungkapkan tantangan baru saat pandemi COVID-19

"Untuk meningkatkan imunitas, orang tua dapat memberikan Vitamin A, B, C dan D, Zinc dan kurkumoid. Hal ini karena multivitamin dapat meningkatkan imun tubuh dengan maksimal. Jadi ini berguna untuk perlindungan dari dalam selain penggunaan APD dan rajin mencuci tangan," kata dia..

Penyebab penularan virus COVID-19 pada anak-anak kata dokter Dhina, biasanya karena terpapar dari orang tua hingga kakek dan neneknya yang terkonfirmasi.

Baca juga: Menteri Bintang ajak anak-anak ikut sukseskan vaksinasi COVID-19

"Ini menunjukkan orang-orang terdekat dari si anak dapat menjadi penular ketika anaknya hanya berada di rumah saja sedangkan orang dewasa yang di rumahnya kembali dari luar setelah bekerja," katanya.

Menurutnya kita tidak dapat memastikan dari mana virusnya menempel seperti di baju, celana atau benda lainnya pada orang dewasa, sehingga anak-anak yang di rumah tertular dari situ.

Baca juga: Masyarakat jadi elemen penting untuk pelindungan anak di masa pandemi

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ini rekomendasi IDAI untuk pembelajaran tatap muka

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar