Selama pandemi, IDI Solo catat 13 dokter meninggal akibat COVID-19

Selama pandemi, IDI Solo catat 13 dokter meninggal akibat COVID-19

Ilustrasi- Salah satu tenaga kesehatan sedang memberikan suntikan vaksin kepada warga. Tenaga kesehatan menjadi kelompok dengan risiko tinggi terpapar COVID-19. ANTARA/Aris Wasita

Dokter yang meninggal dunia tersebut rata-rata berusia di atas 50 tahun. Saat ini masih ada sebanyak 20 dokter yang menjalani isolasi mandiri dan sembilan dokter lain sedang dirawat di rumah sakit
Solo, Jateng (ANTARA) - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Solo menyatakan dari sejak awal pandemi COVID-19 diumumkan oleh pemerintah hingga saat ini sebanyak 13 dokter yang bertugas di Kota Surakarta, Jawa Tengah meninggal dunia akibat COVID-19.

"Mereka ini di antaranya dari radiologi, jiwa, saraf, obsgyn, anestesi, dan umum. Yang paling banyak dari dokter umum, yakni sebanyak tujuh dokter," kata Ketua IDI Solo dr Adji Suwandono,  S.H., Sp.F di Solo, Senin.

Menurut dia dokter yang meninggal dunia tersebut rata-rata berusia di atas 50 tahun. Sementara itu, saat ini masih ada sebanyak 20 dokter yang menjalani isolasi mandiri dan sembilan dokter lain sedang dirawat di rumah sakit.

Ia mengakui kondisi tersebut tidak mudah karena dokter spesialis yang meninggal dunia tidak serta merta bisa digantikan oleh dokter lain. Terkait dengan dokter relawan, menurut dia harus dibahas di tingkat pusat untuk memastikan profil relawan tersebut.

"Relawannya yang seperti apa, apakah koas yang hampir selesai ataukah yang sudah dokter tetapi ranahnya residen atau calon spesialis. Ini memang baru kami diskusikan bersama, misalnya ada spesialis internis atau penyakit dalam, yang menggantikan idealnya ya spesialis dalam lain," kata Adji Suwandono.

Sementara itu Direktur Utama Rumah Sakit Bung Karno (RSBK) Surakarta dr Wahyu Indianto mengatakan RSBK merupakan salah satu rumah sakit yang ketat dalam menerapkan prosedur pengamanan.

"Khususnya di ruang isolasi, tidak ada orang yang bisa masuk maupun keluar. Petugas pun demikian, harus mengikuti prosedur. Ini termasuk di IDG maupun poli namun masih juga kami kecolongan," katanya.

Ia mengatakan belum lama ini ada beberapa tenaga kesehatan termasuk dokter yang menangani COVID-29 ikut terpapar virus tersebut.

"Malah kemarin dokter yang menangani COVID-19 kena semua, karena memang mereka kelelahan sehingga imun turun. Saya sempat minta bantuan dari RSUD Moewardi untuk mengisi kekosongan tenaga dokter ini tetapi belum sempat dokternya datang ternyata sudah ada satu dokter kami yang dinyatakan negatif sehingga bisa kembali bertugas," demikian Wahyu Indianto.

 

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pemulihan pariwisata, IDI Pandeglang gelar vaksinasi di objek wisata 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar