Yogyakarta (ANTARA News) - Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) M. Jusuf Kalla mengunjungi korban luka bakar akibat terkena awan panas Gunung Merapi yang dirawat di "Burn Unit" Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, Rabu.

Dalam kunjungan itu, Jusuf Kalla, melihat secara langsung pasien luka bakar yang sedang dirawat, dan ia berharap rumah sakit memberikan perawatan yang maksimal kepada seluruh korban.

"Kemungkinan korban awan panas ini disebabkan karena adanya kepercayaan masyarakat atas suatu kebiasaan, terkait dengan aktivitas Merapi," katanya.

Ia berharap, kepada seluruh warga masyarakat menjadikan tragedi tersebut sebagai pengalaman, sehingga ke depannya masyarakat mengikuti imbaun dan aturan dari pemerintah.

"Bagaimana pun, aturan dari pemerintah dibuat berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih baik," katanya.

Kenaikan status aktivitas vulkanik Merapi dari "siaga" ke "awas", kata Jusuf Kalla, pasti diputuskan berdasarkan perhitungan-perhitungan tertentu yang mendasarkan pada kondisi darurat.

Ia mengatakan, sejak bencana tsunami melanda Aceh pada 2004, sistem tanggap bencana di Indonesia sudah lebih baik, yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memiliki koordinasi yang lebih cepat dan tepat.

"Untuk penanganan bencana seperti ini, butuh kerja keras dari semua pihak mulai dari masyarakat, pemerintah dan BNPB," katanya.

Menurut Kepala Bagian Hukum dan Humas RS Sardjito, Trisno Heru Nugroho, terdapat 12 korban luka bakar yang dirawat sejak Selasa (26/10), namun empat di antaranya meninggal dunia karena luka bakar serius.

Keempat korban luka bakar yang meninggal dunia tersebut adalah Ny Pujo (68) warga Umbulharjo yang mengalami luka bakar 70 persen, Bp Muji (50) yang mengalami luka bakar 89 persen, Bp Tarno (60) yang mengalami luka bakar 72 persen serta Bp Mursiyam (45) warga Pelemsari yang mengalami luka bakar 80 persen.

Hingga saat ini, jumlah korban meninggal dunia akibat letusan Merapi yang berada di RS Sardjito berjumlah 28 orang, dua di antaranya sudah diambil oleh pihak keluarga yaitu wartawan Vivanews.com Yuniawan, dan relawan dari PMI Bantul Tutur.
(U.E013/M008/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010