Mazar-i-Sharif, Afghanistan (ANTARA News) - Helikopter NATO melepaskan tembakan ke sebuah mobil di Afghanistan utara, Kamis, menewaskan seorang polisi dan saudara politikus setempat, kata Abdul Haq Shafaq, gubernur provinsi Faryab kepada AFP.

Shafaq mengatakan, ia sedang berkendaraan di jalan yang sama dalam konvoi resmi ketika mobil itu diserang helikopter NATO, sekitar lima kilometer di luar ibukota provinsi itu, Maymana.

"Kami berada di jalan yang sama. Lima mobil datang dari arah berlawanan. Tiba-tiba kami melihat sebuah helikopter NATO melepaskan tembakan ke salah satu mobil itu. Seorang polisi dan saudara seorang politikus tewas," kata Shafaq.

Seorang juru bicara Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO mengatakan,"Kami mendengar klaim itu dan kami kini menyelidikinya."

Tiga orang lain -- dua polisi dan seorang warga sipil -- cedera dalam serangan tersebut, kata Shafaq.

Ia mengutuk apa yang disebutnya "aksi brutal tanpa alasan" dan mengatakan, ia telah memulai penyelidikan atas insiden itu, yang katanya terjadi sekitar pukul 11.00 (pukul 13.30 WIB).

Terjadi serangkaian kesalahan serangan oleh pasukan pimpinan NATO dalam beberapa pekan ini, termasuk yang menewaskan lima warga sipil dalam penembakan yang melibatkan pasukan koalisi Selasa dan empat prajurit Afghanistan dalam serangan udara tanpa sengaja pekan lalu.

Kedua peristiwa itu terjadi di Afghanistan selatan, pusat kekerasan sembilan tahun Taliban.

Juga Kamis, serangan bom bunuh diri menewaskan seorang polisi Afghanistan dan mencederai lima warga sipil di Kunduz -- serangan mematikan kedua terhadap pasukan keamanan pemerintah di kota wilayah utara pekan ini.

Konflik meningkat di Afghanistan dengan jumlah kematian sipil dan militer mencapai tingkat tertinggi tahun ini ketika kekerasan yang dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil.

Sekitar 700 prajurit asing tewas dalam perang di Afghanistan sepanjang tahun ini, yang menjadikan 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan asing, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas situs independen icasualties.org.

Pemimpin Taliban Mullah Omar telah menyatakan, pihaknya akan meningkatkan serangan taktis terhadap pasukan koalisi untuk memerangkap musuh dalam perang yang melelahkan dan mengusir mereka seperti pasukan eks-Uni Sovyet.

Saat ini terdapat lebih dari 150.000 prajurit yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai memerangi gerilyawan Taliban.

Para komandan NATO telah memperingatkan negara-negara Barat agar siap menghadapi jatuhnya korban karena mereka sedang melaksanakan strategi untuk mengakhiri perang lebih dari delapan tahun di negara itu.

Pasukan NATO dan Afghanistan saat ini terlibat dalam ofensif besar-besaran di sekitar Kandahar -- kota terbesar di wilayah selatan -- yang bertujuan menghalau gerilyawan dari daerah tersebut untuk membantu mengakhiri perang panjang Afghanistan.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO mencakup puluhan ribu prajurit yang berasal dari 43 negara, yang bertujuan memulihkan demokrasi, keamanan dan membangun kembali Afghanistan, namun kini masih berusaha memadamkan pemberontakan Taliban dan sekutunya.

Sekitar 521 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun itu sebagai tahun mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.

(M014/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010