Labuan Bajo, NTT (ANTARA News) - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, berjanji akan memperjuangkan pembangunan Dermaga Kapal Pesiar Cruiser di Pulau Komodo untuk memudahkan kapal besar bisa bersandar di pulau yang berada di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur itu.

"Saya akan koordinasikan dengan Menteri Perhubungan untuk pembangunan dermaga kapal wisata jenis Cruiser agar bisa masuk anggaran tahun 2011 demi mendukung kunjungan wisatawan asing ke Pulau Komodo," katanya usai mendampingi Wakil Presiden Boediono mengkampanyekan Vote Komodo di Pulau Komodo, Rabu.

Ia mengatakan, kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo sejak tahun 2007 meningkat dua kali lipat lebih dan sebagian menggunakan kapal-kapal wisata ukuran besar yang mengangkut ratusan penumpang.

"Mereka tidak bisa merapat sehingga datang ke Pulau Komodo menggunakan kapal sekoci, padahal kalau bisa merapat maka lebih memudahkan dan tidak membuang waktu mereka," katanya.

Menurut Menbudpar, popularitas Pulau Komodo sebagai tujuan wisata semakin meningkat terbukti kunjungan wisatawan dari tahun 2008 sampai tahun 2010 meningkat dua kali lipat.

"Tahun 2008, kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo tercatat 21.726, dan tahun ini sampai November sudah 42.000, artinya meningkat dua kali lipat lebih," katanya.

Ia mengungkapkan, saat menggelar pameran di International Tourism Borse (ITB) Berlin 2010, sebuah ajang pameran wisata terbesar di dunia, hampir setiap hari orang meminta foto di patung komodo yang sengaja dibuat dengan ukuran sebenarnya.

"Hampir setiap pengunjung berusaha berfoto di samping patung komodo. Popularitasnya luar biasa, apalagi nanti jika ditetapkan sebagai tujuh keajaiban dunia," katanya.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Manggarai Barat Paulus Selasa, sepanjang tahun 2010 tercatat ada sekitar 220 kunjungan kapal pesiar dan 40 diantaranya merupakan Kapal Wisata jenis Cruiser.

"Jika dermaga dibangun maka akan memudahkan wisatawan asing untuk datang, akhirnya jumlah kunjungan semakin meningkat," katanya.

Sementara Dirjen Pemasaran Pariwisata Kemenbudpar Sapta Nirwandar mengatakan, pertumbuhan hotel di Labuan Bajo yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat semakin pesat seperti hotel yang tahun 2006 hanya ada satu hotel kelas melati menjadi tiga hotel berbintang empat pada tahun 2010 ditambah 37 hotel kelas melati.

"Perbandingannya kalau tahun 2006 hanya ada satu hotel representatif yaitu Hotel Ecolodge dengan hanya satu kamar ber-AC, maka sekarang sudah tumbuh tiga hotel berbintang empat yaitu Bintang Flores, Jayakarta, dan Prima," katanya.

Selain itu menurut Sapta, akses transportasi udara semakin berkembang pesat dimana tahun 2006 hanya ada satu penerbangan dengan Foker-27 yang berhenti di Bima, maka tahun 2010 tercatat ada lima maskapai penerbangan yang bisa langsung mencapai Labuan Bajo, termasuk empat maskapai dengan perebangan rutin.

"Selain akses udara, juga mulai bermunculan layanan akses melalui kapal-kapal pesiar jenis Cruize yang tercatat tahun 2010 ini sudah ada 220 kunjungan," katanya.

Demikian juga dengan cindera mata bagi wisatawan semakin beragam melaluii upaya pembinaan yang dilakukan Pemda setempat sehingga saat ini dijumpai patung komodo, mutiara, dan kain tenun khas Labuan Bajo.

"Jarak penerbangan Denpasar-Labuan Bajo hanya 1,5 jam membuat banyak wisatawan yang sudah datang ke Bali akhirnya tertarik datang ke sini," katanya.

Biawak raksasa komodo (varanus commodoensis) merupakan satu-satunya hewan sisa peninggalan zaman Jurasic (130 juta tahun yang lalu) yang masih hidup di dunia dengan habitat yang masih terjaga karena dapat hidup berdampingan dengan penduduk setempat.

Menurut Paulus Selasa, kepercayaan penduduk setempat yang menganggap komodo merupakan saudara kembar menjadikan penduduk setempat tidak melakukan perburuan bahkan melindungi keberadaan hewan purba itu.

"Tidak pernah ada kasus hewan tersebut memangsa penduduk setempat walaupun hewan itu berkeliaran bebas masuk pemukiman penduduk," katanya. (*)
(T.B013/M012/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010