Nyepi 1933 Saka di Bali Aman

Nyepi 1933 Saka di Bali Aman

Suasana lengang saat umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1933 pada Sabtu (5/3). (FOTO ANTARA/Masuki M. Astro)

"Ada beberapa perkecualian yang dalam penggunaan lampu."
Sempidi, Bali (ANTARA News) - Pelaksanaan Hari Suci Nyepi 1933 Saka oleh seluruh umah Hindu Dharma di Bali yang berlangsung selama 24 jam sejak Sabtu (5/3) pukul 06.00 hingga Minggu pukul 06.00 Wita, dilaporkan berlangsung aman dan khidmat.

Di Banjar Dangin, Desa Sempidi, Kabupaten Badung, tampak aktivitas warga mulai terjadi sejak Minggu dinihari, antara lain dibukanya kembali Pasar Sempidi oleh para pedagang, dan pembeli pun mulai berdatangan.

"Nyepi sudah selesai dan semuanya aman, jadi bisa berdagang lagi. Saya dan istri berjualan makanan di sini, pelanggannya pedagang dan pembeli di pasar ini," kata I Made Dana, salah seorang pedagang yang dijumpai pada Minggu dinihari.

Dia mengaku berangkat dari rumahnya di sekitar Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung yang berjarak sekitar dua kilometer dari Pasar Sempidi itu. Lampu-lampu penerangan di Pasar Sempidi itu mulai dinyalakan setelah masa penyepian selesai.

Sebelumnya, para pecalang (petugas keamanan adat) berpatroli mengamankan banjar itu pada malam harinya. "Kami juga mengingatkan warga yang masih menyalakan lampu agar mematikan lampu itu, kecuali ada yang sakit atau bayi yang memerlukan susu. Ada beberapa perkecualian yang dalam penggunaan lampu," kata Agung, salah seorang prajuru adat di banjar itu.

Di banjar yang terletak persis di tepi Jalan Raya Sempidi yang menghubungkan Kota Denpasar dengan Tabanan, terdapat ratusan rumah. Kegelapan menyeluruh terjadi pada malam Nyepi dan seluruh warga berdiam diri di dalam rumah masing-masing.

Jika pada hari biasa suara kendaraan aneka jenis tiada henti menghiasi malam di jalan utama Gilimanuk-Denpasar itu, maka kesunyian total terjadi pada malam Nyepi kecuali ketukan air hujan rintik-rintik di atap-atap rumah.

Kalaupun terdengar suara mesin kendaraan bermotor berlalu di jalan itu, maka hampir bisa dipastikan itu adalah suara kendaraan yang berlalu untuk keperluan sangat khusus.

"Misalnya, membawa orang sakit ke Rumah Sakit Daerah Badung di dekat sini. Kalau untuk keperluan kemanusiaan seperti itu pasti diutamakan," katanya.

Beberapa tahun lalu, kata Agung, dilakukan pertukaran pecalang antarbanjar di Desa Sempidi. "Sekarang tidak lagi berdasarkan kesepakatan seluruh pengurus banjar. Dulu pecalang kami menjaga banjar sebelah, begitu juga banjar sebelah menjaga banjar kami," katanya.

Walau tiada lagi "program" pertukaran pecalang itu, katanya, kondisi keamanan di tiap banjar sangat kondusif selama pelaksanaan Hari Suci Nyepi 1933 Saka ini. "Mudah-mudahan terus seperti ini," katanya.
(T.A037/P004/P003)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Nyepi, pawai ogoh ogoh di Bali ditiadakan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar