Sanaa (ANTARA News) - Koalisi oposisi Yaman hari Senin berjanji meningkatkan protes untuk menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh setelah ia menolak rencana yang mengharuskannya pensiun pada 2011.

Sementara itu di penjara utama Sanaa, ibukota Yaman, tahanan melakukan kekacauan dan bentrok dengan pasukan keamanan yang melepaskan tembakan ke udara dalam upaya mengendalikan situasi, kata seorang pejabat keamanan, demikian Reuters melaporkan.

"Itu merupakan upaya pelarian massal, dan tahanan kemudian berusaha melakukan aksi sabotase," kata pejabat itu kepada Reuters, dengan menambahkan bahwa polisi antihuru-hara telah mengepung kompleks tahanan tersebut.

Puluhan ribu pemrotes berkemah di kota-kota besar Yaman, dan tidak tidur pada malam hari demi mendengarkan pidato dan menyanyikan lagu-lagu nasional, sementara suara penentangan terhadap Saleh meningkat.

Saleh menolak rencana yang diajukan koalisi oposisi pekan lalu, yang akan mencakup reformasi politik dan pemilu yang membuka jalan baginya untuk pensiun tahun ini.

"Peristiwa-peristiwa terakhir membuktikan bahwa rejim tidak mampu menjawab tuntutan rakyat, dan karena alasan itu mereka harus mundur," kata juru bicara koalisi oposisi Mohammed al-Sabry.

"Pemrotes sedang mempelajari sejumlah opsi untuk meningkatkan aksi, termasuk mengatur hari ketika seluruh orang Yaman turun ke jalan, pada protes `Jumat Tanpa Kembali`, dan pilihan-pilihan lain," tambahnya kepada Reuters.

Dalam beberapa waktu terakhir ini protes meningkat untuk menentang pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh, yang berkuasa sejak 1978.

Sedikitnya 19 orang tewas sejak protes anti-pemerintah meletus pada 16 Februari, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas laporan-laporan dan saksi. Kelompok HAM Amnesti Internasional menyebut jumlah kematian 27.

Saleh, yang negaranya dihimpit kemiskinan, saat ini berusaha menumpas Al-Qaeda, meredam gerakan separatisme di selatan dan menjaga gencatan senjata yang rapuh dengan pemberontak Syiah di wilayah utara.

Saleh mengamati kerusuhan yang meluas di dunia Arab dan telah mengisyaratkan bahwa ia akan berhenti setelah masa tugasnya berakhir pada 2013. Ia sebelumnya memangkas pajak dan menjanjikan kenaikan gaji bagi pegawai negeri dan tentara.

Diilhami oleh pemberontakan yang menggulingkan Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali pada Januari dan protes anti-pemerintah di Mesir yang akhirnya menggulingkan Presiden Hosni Mubarak pada Februari, demonstran Yaman juga menuntut pengunduran diri Saleh dalam beberapa waktu terakhir.

Yaman hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.

Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.

Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).

Para komandan militer AS telah mengusulkan anggaran 1,2 milyar dolar dalam lima tahun untuk pasukan keamanan Yaman, yang mencerminkan kekhawatiran yang meningkat atas keberadaan Al-Qaeda di kawasan tersebut, kata The Wall Street Journal bulan September.

Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu akan gagal dan Al-Qaeda memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut.

Yaman menjadi sorotan dunia ketika sayap regional Al-Qaeda AQAP menyatakan mendalangi serangan bom gagal terhadap pesawat penumpang AS pada Hari Natal.

AQAP menyatakan pada akhir Desember 2009, mereka memberi tersangka warga Nigeria "alat yang secara teknis canggih" dan mengatakan kepada orang-orang AS bahwa serangan lebih lanjut akan dilakukan.

Para analis khawatir bahwa Yaman akan runtuh akibat pemberontakan Syiah di wilayah utara, gerakan separatis di wilayah selatan dan serangan-serangan Al-Qaeda. Negara miskin itu berbatasan dengan Arab Saudi, negara pengekspor minyak terbesar dunia.

Selain separatisme, Yaman juga dilanda penculikan warga asing dalam beberapa tahun ini.

(Uu.M014)

(Uu.SYS/C/M014/C/M014) 08-03-2011 02:28:11

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011