Palembang (ANTARA News) - Kapal perang KRI Tanjung Nusanive 937 yang dijadikan hotel terapung pada SEA Games 2011 di kota Palembang tak berfungsi maksimal, karena hingga Selasa, hari kelima pelaksanaan perhelatan akbar itu banyak kamar belum terisi.

Tim pendukung SEA Games seperti wasit dan ofisial, yang semula diharapkan dapat memanfaatkan hotel terapung berkapasitas lebih dari 1.300 orang itu, hingga saat ini belum melakukan "cek in".

Baru beberapa tim pendukung dari cabang ski air, rombongan tim Program Indonesia Emas (Prima) dan beberapa wartawan dari luar daerah yang memanfaatkan hotel terebut. Itu pun saat ini mereka sudah meninggalkan kapal tersebut.

"Kalau ditotal baru sekitar 100 tamu yang menginap di kapal ini," kata Perwira Jaga KRI Tanjung Nusanive, Letkol Laut (P) Heri Widodo di Kawasan Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Selasa.

Heri menyayangkan minimnya pemanfaatan kamar dan fasilitas di KRI Tanjung Nusanive, mengingat kapal itu sudah jauh-jauh didatangkan dari Pelabuhan Tanjung Priok sejak 5 November yang lalu, dengan biaya yang tidak sedikit.

"Kalau dalam dua hari ini, kapal tersebut tidak juga dimanfaatkan oleh panitia SEA Games 2011, mungkin kami akan pulang ke Tanjung Priok," katanya.

Meskipun KRI Tanjung Nusanive adalah kapal perang, sebenarnya fasilitas di dalam kapal tersebut tergolong mewah dan lengkap.

Dalam kapal itu terdapat kamar VVIP yang dilengkapi ruang berpendingin udara, kamar mandi ber-"bath tub", ruang kerja, ruang VIP, dan kamar kelas I yang jumlahnya lebih dari memadai.

Di kapal itu juga terdapat "ball room" lengkap dengan seperangkat alat hiburan dan mini barnya, ruang pertemuan yang nyaman, serta restoran yang cukup representatif.

Semua fasilitas itu, kata Heri, dapat dinikmati secara gratis oleh tamu-tamu yang mau menginap di KRI Tanjung Nusanive.

"Kami tidak memungut bayaran, karena seluruh biaya telah ditanggung oleh Inasoc (Panitia Pelaksana SEA Games)," ujarnya.

Kurang Strategis
Suwarso, wartawan ibukota yang sempat bermalam di KRI Tanjung Nusanive menyatakan sebenarnya ia tidak mempermasalahkan fasilitas yang ada di dalam kapal.

"Kamar-kamar di kapal itu cukup mewah, tapi letaknya kurang strategis," katanya.

Akses dari kapal menuju Kompleks Olahraga Jakabaring maupun arena pertandingan di kota Palembang, menurut Suwarso, juga sulit sehingga mobilitasnya sebagai seorang jurnalis terganggu.

Suwarso sempat menginap selama empat malam di KRI buatan tahun 1983 itu, namun pada Senin (14/11) ia memilih meninggalkan kapal itu.

Ketika diminta tanggapannya tentang akses yang sulit, Letkol Laut Heri Widodo menyatakan bahwa mereka bisa mencarikan jalan keluarnya.

"Sebenarnya kalau tamu menginginkan diantar dapat kami antar. Kami bisa menyiapkan kendaraan ke berbagai arena pertandingan, yang penting tinggal koordinasi saja," ujarnya.

Heri saat ini masih menunggu perkembangan selama beberapa hari mendatang, jika dinilai keberadaan KRI Tanjung Nusanive yang sebelumnya adalah kapal penumpang KM Kambuna milik PT Pelni itu kurang maksimal, pihaknya akan segera meninggalkan dermaga Pelabuhan Boom Baru Palembang.
(T010)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011