Gaya ekletik dalam "Sang Kuriang"

Oleh Maria Rosari

Gaya ekletik dalam "Sang Kuriang"

Penyanyi Sita Nursanti memerankan Dayang Sumbi bersama sejumlah pemain drama musikal dari Panduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan mementaskan drama musikal kisah legenda rakyat Jawa Barat bertajuk "Sang Kuriang" dalam gladi resik di Tetaer Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (31/1). Pementasan kerja sama Djarum Apresiasi Budaya dan Paduan Suara Mahasiswa Parahyangan (ANTARA/Teresia May)

Sang Kuriang tidak menendang perahu hingga menjadi gunung, melainkan turut bunuh diri."
Jakarta (ANTARA News) - Sangkuriang adalah legenda tua dari tanah Pasundan. Legenda ini juga identik dengan mitos tradisional masyarakat Pasundan, serta gunung Tangkuban Perahu.

Di tangan almarhum Utuy Tatang Sontani, kisah Sangkuriang dibawakan menjadi 'Drama Musikal Sang Kuriang'.

Nama tokoh utama dalam drama musikal ini sengaja bukan "Sangkuriang" dalam satu kata, melainkan dipisah, "Sang Kuriang', yang dimaksud oleh Utuy sebagai "Sang Dewata".

Kisah yang diangkat dari libretto (naskah musikal) karya sastrawan Utuy ini, rupanya ingin menciptakan alur cerita yang dibuat berbeda dari versi tradisionalnya.

Berbagai versi tradisional legenda 'Sangkuriang' memang banyak beredar di tengah masyarakat namun tetap memiliki inti yang sama, yaitu kisah Sangkuriang yang jatuh cinta kepada ibu kandungnya, Dayang Sumbi.

Utuy pun akhirnya hanya mengetengahkan inti cerita 'Sangkuriang' ke dalam drama musikal yang berdurasi 90 menit tersebut.

Di tangan Utuy, kisah "Sang Kuriang" bisa menjadi lebih dramatis daripada versi tradisionalnya. Dalam versi Utuy, si Tumang bukanlah seekor anjing, melainkan seorang pembantu Sang Kuriang yang buruk rupa, bisu, bungkuk dan pincang.

Dalam drama ini Dayang Sumbi tidak lari menghilang, melainkan bunuh diri. Sang Kuriang tidak menendang perahu hingga menjadi gunung, melainkan turut bunuh diri.

Pementasan ini dimulai dengan kegalauan Sang Kuriang yang ingin mengetahui siapa ayah kandungnya, namun di sisi lain dia jatuh cinta kepada ibu kandungnya sendiri.

Saat Sang Kuriang mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah si Tumang, murkahlah dia. Tumang dibunuhnya, dan dia pun kembali pulang untuk meminang ibu kandungnya.

Modern ekletik Karya Alm. Utuy ini dari segi artistik digarap oleh seniman senior Sunaryo.

Sunaryo tidak hanya menjadi penasehat artistik semata, dia juga terlibat langsung dalam penggarapan desain artistik, mulai dari tata panggung, kostum, pencahayaan, multimedia, hingga desain poster.

"Kisah ini merupakan kisah tradisional yang ingin kami interpretasikan secara modern dan kontemporer," tulis Sunaryo kepada pers.

Saat tirai panggung dibuka, ekspektasi penonton untuk melihat tata panggung yang menyerupai setting asli, serta kostum tradisional, musnah seketika.

Tata panggung begitu sederhana, hanya terdapat tirai tulle putih yang menjuntai dari atas panggung dan pepohonan yang terbuat dari papan putih.

Nuansa putih memang mendominasi tata panggung, mulai dari lantai panggung, hingga keseluruhan properti panggung semua berwarna putih.

"Kami bermain di nuansa putih dan abu-abu, semua serba mengambang. Yang ingin ditonjolkan adalah modernitas kostum, karakter tokoh, serta suara dan jalan cerita," ujar sutradara 'Drama Musikal Sang Kuriang', Wawan Sofwan, saat dijumpai di Jakarta, Kamis.

Warna putih yang mendominasi tata panggung ternyata juga membantu permainan laser dan tata cahaya, yang bertujuan menambah efek dramatis dan menunjang modernisasi drama musikal ini.

Efek sinar laser hanya sebagai pelengkap, karena itu sinar yang ditembakkan pun hanya bernuansa abu-abu dan putih saja.

Laser berwarna merah yang merupakan interpretasi darah hanya muncul di akhir cerita, saat Dayang Sumbi dan Sang Kuriang bunuh diri.

Tidak hanya tata panggung, kostum para pemain juga sangat menarik. Adalah Deden Siswanto, seorang perancang busana yang menjadi penata busana untuk drama musikal ini.

"Bisa dibilang kostum para pemain bertema ekletik, belum sampai pada futuristik, namun sudah sangat modern dan dipadu dengan unsur tradisional," ujar Deden.

Bukan kain atau kebaya yang digunakan oleh Dayang Sumbi, melainkan gaun panjang dengan ornamen logam pada bahu.

Berbagai jenis kain ditumpuk menjadi satu, memberikan efek megah dan anggun. Sementara kain batik memberikan sentuhan tradisional.

Proses pembuatan busana para siluman juga dikatakan Deden memakan waktu yang sangat lama.

"Kainnya saya sikat, dicelup, dibakar, dicelup lagi. Namun desainnya harus tetap menyeramkan dan nyaman dipakai, karena para pemain harus menari sambil menyanyi," ujar Deden.

Drama musikal ini tidak akan sukses tanpa para pemain yang berkualitas. Dayang Sumbi dimainkan dengan sangat anggun oleh penyanyi Sita Nursanti.

Arogansi dan sikap kasar Sang Kuriang dapat dimainkan dengan baik oleh Farman Purnama. Sementara untuk musik, Avip Priatna bekerjasama dengan Dian Hadipranowo sebagai komposer dan menampilkan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan (PSMUP).

Meskipun setiap dialog dibawakan menggunakan nyanyian diiringi musik bernuansa klasik kontemporer, alur cerita drama musikal ini mudah dimengerti dan tidak bertele-tele.

Paduan suara yang identik dengan menyanyi sambil berdiri tanpa gerak tubuh, kali ini mereka menari sambil menyanyi.

Pertunjukan 'Drama Musikal Sang Kuriang' dipentaskan di Taman Ismail Marzuki mulai tanggal 1 hingga 3 Februari.

(M048)

Oleh Maria Rosari
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar