Jakarta (ANTARA) -
Musyawir menjadi satu di antara 500 dai yang dikirim ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) program inisiasi Kementerian Agama yang mewakafkan diri serta mesti bertaruh nyawa saat menyampaikan syiar di Papua Barat.
 
Ia dikirim untuk berdakwah di wilayah Kelurahan Kroy, Distrik Kaimana, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, selama Ramadhan 2024 ini.
 
"Dalam berdakwah sudah tentu ada tantangan dan rintangannya, maka sudah tentu jalan yang terbaik ditempuh ialah bersabar. Melaluinya di sisi lain mencarikan solusi agar tidak berkepanjangan," ujar Musyawir dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
 
Kabupaten Kaimana memiliki wilayah yang luas. Tidak ada akses jalan darat antara satu distrik dengan distrik yang lain, dan antara distrik dengan kota, apalagi antarkampung. Semua jalur transportasi melalui akses laut dan sungai.

Persentase penduduk Kabupaten Kaimana yang non-Muslim dengan yang Muslim hampir seimbang, 53 persen non-Muslim dan 47 persen Muslim.
 
Rata-rata mereka bekerja sebagai nelayan, sebagian yang lain berkebun kelapa dan pala. Masyarakat Kaimana cukup plural karena di sana ada delapan suku adat dan budaya.

Baca juga: Kisah dai 3T bereskan persoalan internal umat Islam di Mentawai
 
Berdakwah di Papua, kata dia, terutama Kaimana, tidak mudah karena taruhannya adalah nyawa. Seorang dai harus melewati lautan lepas dengan gelombang besar dan angin yang kencang yang selalu mengintai di setiap perjalanan ketika hendak berdakwah di kampung-kampung Muslim.
 
Di samping itu, dai juga harus siap berkorban materi yang besar karena biaya perjalanan dakwah ke lokasi-lokasi terpencil tidak murah.
 
Musyawir mengaku melakukan sejumlah pembinaan keagamaan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat setempat. Di antaranya, mengaji, tahsin qiraah, praktik wudhu, praktik memandikan, mengafani dan menyalati jenazah, dan lain sebagainya.
Siswa di Kelurahan Kroy, Distrik Kaimana, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, saat praktik menyalatkan jenazah. (ANTARA/HO-Kemenag)
 
Ia bercerita Papua punya karakteristik tersendiri sehingga para dai perlu menerapkan strategi khusus ketika berdakwah di sana.
 
Strategi tersebut seperti berbaur langsung dengan masyarakat setempat, tidak menonjolkan pakaian yang lebih bagus dari mereka, memberikan nasihat yang bijak ketika mereka salah, dan mengajarkan kebersihan ketika mereka kotor.

Baca juga: Dai 3T ungkap masih banyak potensi dakwah di daerah terpencil
 
Menurut Pengajar di MA Ihya Ulumuddin Kaimana ini, ketika dai berpenampilan dan bersikap seperti dai-dai yang ada di kota, masyarakat Papua justru akan merasa tidak pantas bergaul dengan mereka. Pada akhirnya, mereka akan semakin menjauh dari dakwah Islam
 
"Ikuti arus tapi jangan terbawa arus. Ikuti kebiasaannya yang tidak melanggar syariat, dan mengingatkan di saat melakukan kesalahan," kata dia.
 
Musyawir berpandangan berdakwah di daerah 3T menyenangkan dan sekaligus menantang. Menurutnya, kondisi tersebut mengingatkannya dengan perjuangan Nabi Muhammad yang mengalami banyak kesulitan dan risiko saat menyampaikan dakwah.
 
Ke depan, Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kaimana ini berharap program pengiriman dai tidak hanya dilakukan selama sebulan saja agar dai bisa melakukan pembinaan secara maksimal, para dai lokal dibekali dengan buku-buku panduan, dan anak-anak di wilayah 3T dibina oleh Kemenag.
 
"Agar ke depan kembali mengembangkan dakwah di negerinya sendiri," katanya.

Baca juga: Kemenag kirim 500 dai ke wilayah 3T selama Ramadhan, ini tujuannya

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2024