Ario Bayu dalam sosok Soekarno

Ario Bayu dalam sosok Soekarno

Ario Bayu. (ANTARA FOTO/Teresia May)

Tapi, harus dipahami bahwa tanggung jawab peran Soekarno ada di sutradara juga."
Jakarta (ANTARA News) – Ario Bayu merasa bertanggung jawab besar bagi negeri ini saat memerankan sosok Soekarno (Kusno Sosrodihardjo), Bapak Bangsa Indonesia, dalam film garapan Hanung Bramantyo berjudul "Soekarno" yang bakal diluncurkan pada 12 Desember 2013.


Ia memerankan tokoh Soekarno saat usia 20-an tahun, atau saat pria kelahiran Blitar (Jawa Timur) itu mulai menjalani pendidikan di Bandung, Jawa Barat. Walau tampil sosok Soekarno saat kecil dan remaja, sekira 90 persen sosok tokoh proklamator kemerdekaan RI itu diperankan Ario Bayu.

 “Saya sadar harapan penonton terhadap karakter yang saya perankan cukup besar. Tapi, harus dipahami bahwa tanggung jawab peran Soekarno ada di sutradara juga," ujarnya.

Aktor kelahiran 6 Februari 1985 itu menimpali, "Saya bisa menginterpretasi sosok Soekarno melalui referensi video, dialog dengan keluarganya, orang-orang terdekat, maupun tokoh-tokoh lain yang pernah bersinggungan dengan beliau,” ujar


Ario sangat menyadari bahwa Soekarno adalah tokoh besar, founding father (Bapak Bangsa), dan memiliki pengagum yang luar biasa banyak. Menurut dia, ada urgensi kenapa film Soekarno harus dibuat.

 “Bagaimana pun Soekarno adalah tokoh yang layak dijadikan panutan, ideologinya, semangat kebangsaannya, kecintaannya pada negeri ini, hingga keberaniannya melawan penindasan. Beliau harus hidup dari penjara ke penjara. Sampai ajal pun beliau juga harus dalam keadaan terpenjara,” ungkap bintang di film "Java Heat", "Death Mine", "Serangoon Road" itu.

Soekarno, dikemukakannya, di film ini benar-benar memperlihatkan sisi manusianya, dan bukan pahlawan super (super-hero). 

 “Soekarno bukan manusia sempurna. Dia womanizer (pencinta wanita). Dan harus diakui punya sisi lemah dalam hidupnya. Ini yang harus kita pahami dan terima dari ketidaksempurnaan seorang Soekarno. Bahwa dia adalah Bapak Bangsa, Pemimpin Besar dan Proklamator itu pun harus kita akui,” demikian Ario.

Pewarta: Desy Saputra
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar