... salah satu yang jadi acuan adalah Bandara Heathrow di London... "
Jakarta (ANTARA News) - Keterlambatan jadual penerbangan di Indonesia sudah mengkhawatirkan dan pemerintah menyatakan memberi perhatian serius soal itu, termasuk fasilitas di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Banten. 

Wakil Presiden, Boediono, mengatakan, keluhan masyarakat soal itu menjadi perhatian penuh pemerintah untuk segera membenahi pengelolaan dan fasilitas Bandara Soekarno-Hatta.

"Untuk itu pemerintah mengelar rapat membahas secara rinci, mengenai perbaikan dan kelancaran Bandara Soekarno-Hatta," kata Boediono, di Jakarta, Kamis.

Boediono memimpin rapat evaluasi infrastruktur perhubungan udara tentang perbaikan dan manajemen pengelolaan bandara.

Rapat di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, dihadiri Menteri Perhubungan, EE Mangindaan, Menteri BUMN, Dahlan Iskan, dan pemegang otoritas terkait.

Boediono membandingkan keadaan di London, yang memiliki empat bandar udara, dan terbesar adalah Bandar Udara Internasional Heathtrow. 

"Rapat memutuskan kita mengacu standar di beberapa bandar udara internasional, dan salah satu yang jadi acuan adalah Bandara Heathrow di London," katanya.

Menurut SkyTrax, Bandar Udara Internasional Heathrow ada di posisi ke-10 bandar udara terbaik di dunia, sementara peringkat wahid ditempati Bandar Udara Internasional Changi, Singapura. 

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari di Heathrow bagi pemerintah Indonesia, di antaranya kapasitas pergerakan pesawat terbang dan kelancaran proses penerbangan di sana. 

Bandara Heathrow di London mampu menangani 100 pergerakan pesawat perjam dengan dua landasan pada saat cuaca baik. Kecepatan pelayanan dan tata kelola itu setara dengan 36 detik perpergerakan pesawat terbang! Baik mendarat ataupun lepas landas.

Sementara Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta, yang juga memiliki dua landasan secara maksimal cuma mampu menangani 64 pergerakan pesawat perjam, selisih 36 pergerakan perjam alias 56,25 detik perpergerakan pesawat terbang.

Menurut wapres, jika Indonesia bisa mengelola bandara sebaik Bandar Udara Internasional Heathrow maka kapasitasnya bisa meningkat. Satu "jurus" lain menuju ke sana adalah membangun landasan ketiga, namun agaknya akan ditunda karena memerlukan biaya sangat besar, Rp40 triliun. 

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2014