Bangkok (ANTARA News) - Para pengunjuk rasa anti-pemerintah Thailand, Jumat, menuju ke berbagai lokasi di ibu kota Bangkok sebagai awal dari "pertempuran terakhir" yang dijanjikan untuk menggulingkan pemerintah sementara dan mengantar reformasi sebelum pemilu.

Sejak pagi, para demonstran dibagi menjadi beberapa prosesi mulai berbaris menuju lima stasiun TV, Gedung Pemerintah, Parlemen dan Pusat untuk Administrasi Ketentraman dan Ketertiban (CAPO) yang dikelola pemerintah.

Pimpin protes, Suthep Thaugsuban, memimpin salah satu prosesi ke Gedung Pemerintah yang telah ditutup selama berbulan-bulan, dan mengatakan dia akan menunggu di sana untuk Perdana Menteri sementara baru Niwatthamrong Boonsongpaisarn, atau anggota kabinet lain yang datang untuk melakukan pembicaraan.

Kabarnya, polisi menembaki para demonstran yang dipimpin oleh Luang Pu Buddha Isara dengan gas airmata dan mengepung kantor pusat CAPO, menyebabkan setidaknya satu orang terluka.

Ribuan warga Bangkok Jumat turun ke jalan menuntut pembubaran pemerintah sementara, penundaan pemilihan umum, dan reformasi untuk mengakhiri pengaruh keluarga Shinawatra.

Pemerintah sementara di Thailand terbentuk setelah pengadilan tinggi memberhentikan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dari jabatannya terkait dugaan korupsi.

Pemerintah baru tersebut berencana untuk mengadakan pemilihan umum pada 20 Juli mendatang.

Pemimpin kelompok oposisi, Suthep Thaugsuban, menyeru para pengunjuk rasa untuk berkumpul di depan gedung parlemen, kantor perdana menteri, dan gedung stasiun televisi negara dengan tujuan mencegah institusi tersebut digunakan sebagai perpanjangan tangan pemerintah.

"Kami akan membersihkan pengaruh keluarga (mantan perdana menteri) Thaksin Shinawatra dari negara ini," kata Suthep.

Thaksin dan keluarganya digambarkan oleh kelompok oposisi sebagai tokoh kapitalis yang korup. Namun Thaksin di sisi lain juga merupakan tokoh yang sangat populer di kalangan masyarakat pedesaan saat menjabat sebagai perdana menteri tahun 2001 sampai 2006.

Thaksin saat ini berada di pengasingan untuk menghindari hukuman penjara yang diputuskan pada 2008 lalu karena dakwaan penyalah-gunaan kekuasaan.

Meskipun diputuskan bersalah oleh pengadilan, Thaksin masih berpengaruh di Thailand. Dia adalah tokoh penting di balik kemenangan saudara perempuannya, Yingluck, menjadi perdana menteri.

Saat ini, puluhan ribu pendukung Yingluck sedang menuju ke Bangkok untuk berunjuk rasa pada Sabtu.

Mereka ingin berharap pemerintahan sementara Thailand dapat memenangi pemilu dan mengembalikan partai milik keluarga Shinawatra ke kursi kekuasaan.

Potensi bentrokan antara kelompok pendukung keluarga Shinawatra dan oposisi semakin dikhawatirkan terjadi karena kedua pihak sama-sama mempunyai sayap para-militer.

Sudah 25 orang tewas sejak demonstrasi anti pemerintah dimulai pada November tahun lalu, demikian Xinhua.

(H-AK/H-RN)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2014