counter

Seratus anggota kesenian ikuti "Jelajah Pusaka Borobudur"

Seratus anggota kesenian ikuti "Jelajah Pusaka Borobudur"

Presiden Joko Widodo berjalan di halaman Candi Borobudur saat melakukan kunjungan kerja ke Taman Wisata Candi Borobudur Magelang, Jateng, Jumat (29/1). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin/pd/16)

Borobudur, Jateng, (ANTARA News) - Sekitar 100 anggota berbagai kelompok kesenian rakyat mengikuti kegiatan "Jelajah Pusaka Borobudur" dalam rangkaian agenda tahunan "Ruwat-Rawat Borobudur 2016" di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Kegiatan Jelajah Pusaka Borobudur ini untuk menggali lebih kaya lagi inspirasi atas nilai-nilai seni dan budaya dari Candi Borobudur. Pesertanya umumnya kalangan generasi muda," kata Ketua Komunitas Warung Info Jagad Cleguk Borobudur Kabupaten Magelang (penyelenggara "Ruwat-Rawat Borobudur") Sucoro di Borobudur, Magelang, Sabtu.

Ia mengatakan mereka berasal dari 48 kelompok kesenian rakyat dari beberapa desa di sekitar Candi Borobudur maupun tempat lainnya di Kabupaten Magelang, seperti Desa Genito, Cebongan, dan Clapar, Kecamatan Windusari, danDesa Sutopati, Kecamatan Kajoran.

Selain itu, Desa Citran, Kecamatan Pakis, Desa Bawang, Kecamatan Grabag, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Desa Krageman, Kecamatan Srumbung, Desa Sambeng, Giritengah, dan Giripurno, Kecamatan Borobudur.

Kegiatan "Jelajah Pusaka Borobudur" itu berlangsung mulai 23-27 April 2016, antara lain berupa dialog budaya, pelatihan, dan lokakarya bertema "Relief Borobudur Sumber Inspirasi Karya Seni Pertunjukan".

Narasumber kegiatan, ujarnya, antara lain sejumlah pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, pejabat dari Balai Konservasi Borobudur, dan Taman Wisata Candi Borobudur.

"Selama ini sejumlah kelompok kesenian telah melahirkan karya baru, berupa Sendratari Kidung Karmawibangga, yang sumber inspirasinya dari relief Candi Borobudur. Hal serupa dikembangkan juga untuk kelompok-kelompok yang lain untuk melahirkan lakon-lakon baru dari inspirasi relief tersebut," katanya.

Ia mengatakan selama ini mereka menghidupi kelompok keseniannya yang berbasis, antara lain tarian kuda lumping, jatilan, topeng ireng, lengger, dan grasak.

Pada masa mendatang, ujarnya, dengan basis tarian tradisional tersebut, mereka menyusun cerita dan mengemas menjadi Sendratari Kidung Karmawibangga yang bisa melahirkan berbagai lakon. Relief Karmawibangga di Candi Borobudur meliputi 160 panel yang secara umum bercerita tentang hukum sebab-akibat.

"Untuk melahirkan karya dari sumber inspirasi cerita Karmawibangga tersebut, mereka harus menyerap dan menguasai tentang berbagai hal atas relief tersebut, termasuk kepentingan kepariwisataan dan sejarah Candi Borobudur yang memiliki nilai-nilai universal," ujarnya.

Agenda seni dan budaya "Ruwat-Rawat Borobudur" selama 18 April hingga 1 Juni 2016 sebagai penyelenggaraan tahunan ke-13 yang diprakarsai Komunitas Warung Info Jagad Cleguk Borobudur.

Berbagai kegiatan, antara lain pentas kesenian rakyat, sarasehan budaya, seminar pariwisata, jelajah pusaka, loka karya seni budaya, prosesi tradisi masyarakat, festival kesenian rakyat, pentas kolosal Sendratari Kidung Karmawibangga, dan kirab budaya.

Pewarta: M. Hari Atmoko
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Makna sakral lampion api Waisak

Komentar