Jakarta (ANTARA News) - Industri tekstil yang merelokasi pabriknya ke Jawa Tengah berkontribusi mengurangi pengangguran dan menciptakan lapangan kerja baru bagi SDM di Jawa Tengah.






"Ini merupakan buah dari relokasi ke Jateng dua tahun lalu. Kami akan terus mengeksplor ini. Makanya tingkat pengangguran di Jateng dan sebagian Jawa Timur menurun drastis," kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, dihubungi di Jakarta, Kamis.




Dia menyampaikan, program padu dan padan yang digulirkan Kementerian Perindustrian juga dijalankan untuk industri tekstil di Sukoharjo, Solo dan Boyolali, karena lulusan SMK maupun SMA di sana hampir seluruhnya terserap.




"Link and match nya sudah jelas di sini. Hampir bisa dibilang nyaris bekerja semua," tukas dia.




Untuk itu, industri tekstil setempat akan melanjutkam program pelatihan bagi SDM untuk beri pembekalan dan bersedia ditempatkan di sejumlah daerah kawasan tekstil.




Diketahui,  Kementerian Perindustrian bertekad mendorong penciptaan tenaga kerja Indonesia yang terampil sesuai kebutuhan dunia usaha melalui pendidikan dan pelatihan vokasi. 




Untuk itu, diterbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 3 tahun 2017 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi yang Link and Match dengan Industri.




“Peraturan ini akan menjadi pedoman bagi SMK dalam menyelenggarakan pendidikan kejuruan yang terpadu dan terkait engan industri. Sedangkan, bagi perusahaan, untuk memfasilitasi pembinaan kepada SMK dalam menghasilkan tenaga kerja industri yang terampil dan kompeten,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.




Sebagai bentuk implementasi dari Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 3/2017, Kementerian Perindutrian telah menunjuk sejumlah industri untuk melakukan pembinaan dan pengembangan terhadap SMK di wilayah sekitar lokasi perusahaannya, yang dikemas dalam program link and match.




Untuk tahap pertama, direncanakan peluncuran program pertautan dan perpaduan antara SMK dengan industri tersebut akan dilakukan di Jawa Timur pada akhir Februari ini, yang melibatkan 50 perusahaan dan 261 SMK. 




“Dengan asumsi, setiap SMK akan melibatkan 200 siswa, maka jumlah siswa yang siap diserap oleh sektor industri sebanyak 52.200 siswa,” kata dia.




Di samping itu, lanjut dia, jumlah tersebut juga ditambah melalui program Diklat 3 in 1 (pelatihan sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja) yang diinisiasi Kementerian Perindutrian dengan melibatkan sebanyak 4.500 peserta di wilayah Jawa Timur. 




BlSecara kumulatif, diprediksi akan tercipta 600.000 calon tenaga kerja yang dapat memenuhi kebutuhan industri pada 2019.




“Langkah ini merupakan bagian dari program nasional yang diharapkan secara masif dapat merevitalisasi kondisi SMK yang ada saat ini,” katanya.


Pewarta: Sella Gareta
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2017