Komputer bisa deteksi orientasi seksual seseorang

Komputer bisa deteksi orientasi seksual seseorang

Festival Komputer Indonesia 2013 Pengunjung mengamati produk yang dipamerkan dalam Festival Komputer Indonesia 2013 di Jakarta Convention Center, Rabu (12/6). Pameran itu berlangsung 12-16 Juni 2013 dan menampilkan berbagai produk komputer dan laptop beserta aksesorisnya. (ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)

Jakarta (ANTARA News) - Studi baru menunjukkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dapat mendeteksi seorang homoseksual, lesbian atau straight, hanya dari foto wajahnya.

Dalam studi itu, para peneliti dari Stanford University menggunakan AI untuk menentukan orientasi seksual lebih dari 35.000 gambar wajah dan membandingkan hasilnya dengan tebakan manusia.

Menggunakan foto dari situs kencan online yang berbasis di Amerika Serikat, tim peneliti mengunduh 35.326 foto yang mewakili 14.776 pria gay, dan wanita lesbian dan mereka yang straight.

Mereka menemukan bahwa ciri-ciri wajah pria gay dan wanita lesbian sedikit berbeda dan komputer melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk menangkap isyarat ini ketimbang manusia.

"Wajah mengandung lebih banyak informasi tentang orientasi seksual daripada yang dapat dirasakan dan ditafsirkan oleh otak manusia," kata para penulis dalam sebuah laporan.

Dengan menggunakan algoritma, perangkat lunak komputer menentukan apakah laki-laki straight dan gay sekitar 81 persen dari waktu. Sementara untuk wanita, hanya bisa memperkirakan secara akurat 71 persen.

Menurut para peneliti, beberapa bagian wajah bisa menjelaskan lebih banyak soal orientasi seksual seseorang. Pada pria, bagian hidung, mata, alis, pipi, garis rambut dan dagu adalah tempat yang paling informatif.

Sedangkan untuk wanita, bagian hidung, sudut mulut, rambut dan leher berisi informasi yang penting. Teori hormon pralahir menunjukkan bahwa ada hubungan antara orientasi seksual dan struktur fisik wajah seseorang.

Selanjutnya, tim peneliti membandingkan skor komputer melawan manusia. Dibandingkan mesin, pria hanya bisa mendeteksi apakah seseorang itu atau tidak gay sekitar 61 persen, sementara untuk wanita hanya 54 persen.

Para peneliti mengingatkan bahwa feminin atau maskulin bukanlah indikator seksualitas seseorang. Mereka juga tidak menyarankan orang-orang mengasumsikan orientasi seksual seseorang dari penampilan mereka, karena ada kemungkinan mereka salah.

"Pertama, fakta bahwa wajah pria gay dan wanita lesbian, tidak berarti menyiratkan bahwa semua pria gay lebih feminin daripada pria yang menyukai wanita, dan sebaliknya," kata mereka.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa AI dapat berguna untuk memprediksi secara akurat ada tidaknya kanker kulit. Demikian seperti dilansir laman Medical Daily.

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar