Paris (ANTARA News) - Peragaan udara yang memekakkan telinga merupakan daya tarik utama bagi ribuan peminat kedirgantaraan yang bersiap-siap menghadiri Paris Air Show pekan ini, namun kegiatan yang paling penting berlangsung di darat. Ketika berbagai jet tempur memamerkan keandalan dan kelincahan mereka di udara, perang udara (dogfight) sesungguhnya antara pembuat pesawat sipil ternesar dunia, Airbus dari Eropa dan Boeing yang berkedudukan di AS, akan digelar di bawah di stand-stand perusahaan kedirgantaraan, demikian laporan AFP. Pameran dua tahunan selama sepekan di Paris itu, yang dimulai Senin, merupakan salah satu kegiatan kedirgantaraan terbesar di dunia dan menjadi salah satu tanggal terpenting dalam industri tersebut. Boeing dan Airbus mengumumkan order baru senilai 48 miliar dolar pada pameran tahun lalu di Paris dan akan mencari peluang bisnis lainnya pekan ini. Dua tahun lalu, Airbus mengungguli Boeing dalam lomba meraih pesanan, namun kelompok Eropa ini sejak itu tertinggal di belakang dan kini berjuang keras mengatasi berbagai masalah produksi dan operasional yang menderanya. "Dua tahun lalu Airbus berada di puncak, kami yang terbaik," kata kepala eksekutif Airbus, Louis Gallois, baru-baru ini. "Kami sudah tak berada dalam situasi serupa lagi." Airbus hingga sejauh ini pada 2007 baru mengumumkan order yang jumlahnya hanya separuh dari pesanan yang diterima Boeing. Pada akhir Mei, Airbus melaporkan 201 order baru tahun ini, sedangkan saingan beratnya dari AS, Boeing, telah mengantongi 429 order pada awal Juni ini. Dibelit berbagai masalah Lebih jauh lagi, Airbus mengalami kesulitan pada tahun lalu, dengan melaporkan kerugian setelah menikmati untung sebesar 2,3 miliar dolar pada 2005. Sejak itu, Airbus melancarkan rencana restrukturisasi yang radikal. Masalah utama yang dihadapi kelompok dari Eropa itu adalah proyek superjumbo A-380 miliknya yang terlambat dua tahun dari jadwal, kelambatan yang mengakibatkan tambahan biaya ratusan juta euro. Melemahnya dolar membuat produk Airbus kurang memiliki daya saing dan pengembangan jet berukuran sedangnya, A-350, juga mengalami masalah. Proyek A-350 diluncurkan untuk menyaingi 787. Kelompok AS itu telah menerima hampir 600 pesanan untuk 787 dan menyatakan perusahaan itu akan sibuk memenuhi pesanan hingga 2013. Boeing menjadi semakin kuat, terutama akibat popularitas fenomenal pesawat barunya, 787 dreamliner, yang akan operasional pada 2008, lima tahun lebih cepat ketimbang A-350 milik Airbus. (*)

Pewarta:
Copyright © ANTARA 2007