counter

Yang tersisa dari kemeriahan pergantian tahun di Padang

Yang tersisa dari kemeriahan pergantian tahun di Padang

Ilustrasi - Kemeriahan pesta kembang api saat malam tahun baru 2018 di kawasan Jembatan Merah Putih, Ambon, Maluku, Senin (1/1/2018). Selain pesta kembang api, perayaan malam pergantian tahun di Ambon juga dimeriahkan dengan hiburan rakyat oleh musisi setempat. (ANTARAFOTO/izaac mulyawan)

Padang (ANTARA News) - Tetes air hujan yang mengguyur Kota Padang, Sumatera Barat sejak Senin dinihari tidak menyurutkan langkah Setiawan seorang petugas kebersihan bersama puluhan rekannya menuju Pantai Padang.

Saat hari masih gelap melawan dinginnya udara, tepat pukul 05.15 WIB, ia berangkat dari rumah yang berlokasi di Kecamatan Bungus Teluk Kabung menempuh jarak sekira 25 kilometer.

Meriahnya perayaan pergantian tahun membuat kawasan Pantai Padang dipenuhi sampah sisa-sisa kegembiraan warga menyambut kedatangan 2018.

Sepeninggal pesta kembang api dan tiupan terompet yang mengalun ramai, ditengah guyuran hujan sejak pukul 07.00 WIB, puluhan petugas kebersihan yang kerap disapa pasukan oranye harus berjibaku membersihkan beragam sampah yang dibuang pengunjung di area pantai Padang sepanjang tiga kilometer.

Meski seragam oranye yang dikenakan mulai kuyup, karena hujan tak kunjung berhenti, para petugas kebersihan itu dengan sigap mengumpulkan beragam sampah sebagai bentuk tanggung jawab mereka menghadirkan kota yang bersih.

Di hari pertama tahun 2018, mereka harus bekerja ekstra keras karena tumpukan sampah sisa perayaan tahun baru meningkat hingga 40 persen volumenya dibandingkan hari biasa.

Selama 13 tahun menjadi petugas kebersihan, Setiawan seakan sudah hapal setiap hari pertama tahu baru tugas berat menanti.

Bersama puluhan rekannya ia memunguti sampah di jalan, trotoar, hingga saluran air.

Di tengah ayunan sapu senjata pamungkasnya dalam bekerja sesekali ia menunduk, untuk mengambil sampah plastik atau kertas yang lengket dengan aspal basah.

Pekerjaan puluhan petugas kebersihan itu didukung oleh becak motor, truk pengangkut sampah, bahkan juga diturunkan satu unit mobil penyapu jalan (street sweeper).

Para petugas kebersihan awalnya akan menyapu dan mengonggok sampah tersebut di pinggir jalan, kemudian kendaraan yang tersedia mengangkut sampah itu ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Namun ternyata bukan hanya Setiawan dan teman-teman yang bertugas secara ekstra. Hal yang sama juga dilakukan oleh petugas kebersihan di bibir Pantai Muaro Lasak. Secara kedinasan, kawasan bibir pantai adalah tanggung jawab petugas dari Dinas Pariwisata.

Walau begitu dalam pelaksanaannya, baik petugas Dinas Lingkungan Hidup ataupun Dinas Pariwisata tetap saling membantu dan berkoordinasi.

Pada tepian pantai Muaro Lasak, terpampang pemandangan tak enak dilihat mata. Beragam sampah plastik dan kertas, bekas kemasan makanan atau minuman bertaburan.

"Sangat disayangkan masih ada pengunjung yang membuang sampah sembarangan, padahal ada tempat sampah besar disediakan," kata Deni Ardianto Koordinator petugas kebersihan dari Dinas Pariwisata Padang untuk pantai Muaro Lasak.

Pembersihan menjadi sulit karena pasir yang basah akan menjadikan alat yang digunakan semakin berat.

Berbeda dengan Dodi, Deni bersama 15 rekannya tidak mengumpulkan sampah itu dengan sapu lidi, namun alat pengais sampah karena sampah tersebut berada di atas permukaan pasir. Namun beberapa kali mereka juga terpaksa menggunakan tangan.

Para petugas kebersihan itu bekerja dalam menjaga kebersihan. Dalam berbagai cuaca, atau kondisi, mereka setia dengan tugas yang diemban.

Bukan hanya pasukan oranye, rasa peduli terhadap kebersihan ternyata juga muncul dari kelompok masyarakat pada pagi itu.

Salah satunya adalah Komunitas Jemaat Ahmadiyah Padang. Sekitar 100 orang anggota komunitas tersebut ikut turun ke Pantai Muaro Lasak sebagai relawan kebersihan.

Cuaca hujan nyatanya tidak mempengaruhi semangat mereka untuk berperan membersihkan sampah-sampah yang ada.

Secara bersama-sama mereka mulai menyisir dari tugu Monumen Merpati Perdamaian, selanjutnya ke taman Muaro Lasak, kemudian di bibir pantai.


Semua turun tangan

Bukan hanya orang dewasa, remaja serta anak-anak juga tampak antusias ikut dalam kegiatan sosial tersebut.

"Ini adalah tahun keempat komunitas kami ikut membantu pembersihan pantai usai malam pergantian tahun di Padang," kata Ketua Pemuda Ahmadiyah Cabang Padang, Fazil (38).

Meski begitu, lanjutnya, jumlah sampah pada pergantian tahun sekarang dinilai telah berkurang jika dibandingkan pada tahun lalu.

Bukan hanya di Padang, secara nasional kegiatan serupa juga dilakukan serentak bersama cabang-cabang lain di 50 kota Indonesia.

Dari aksi sosial tersebut, mereka secara tersirat ingin mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pantai. Salah satunya dengan menjaga kebersihan.

Apalagi kawasan pantai di Padang saat ini menjadi salah satu andalan wisata di kota bengkuang, sehingga kebersihan tempat akan mempengaruhi wisatawan untuk datang.

Selain Komunitas Ahmadiyah, pihak yang juga turut membantu bersih-bersih adalah Petugas Kebersihan Kecamatan dan Kelurahan (PK3) Padang Barat.


Penegakan hukum

Pakar Tata Kelola Universitas Bung Hatta Padang, Miko Kamal Phd menilai penegakan hukum yang tegas dan konsisten akan mencegah kebiasaan masyarakat yang selama ini masih suka membuang sampah sembarangan.

"Selama ini jarang sekali terdengar ada sanksi yang tegas bagi pelaku buang sampah sembarangan kendati sudah ada Perda, akibatnya kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan belum terbentuk di masyarakat," kata dia.

Menurut dia,orang berpikir karena tidak ada hukuman bagi pembuang sampah sembarangan maka akhirnya jadi kebiasaan.

Ia mendorong pemerintah Kota Padang harus lebih serius menegakkan hukuman bagi pembuang sampah sembarangan apalagi sudah ada aturan dalam bentuk Perda.

Pada sisi lain, ia menilai kebersihan pada fasilitas umum yang ada di Padang selama ini lebih karena adanya petugas kebersihan.

"Seharusnya kota itu bersih karena kesadaran warganya karena petugas tidak mungkin bekerja secara penuh selama 24 jam," katanya.

Sementara Wali Kota Padang Mahyeldi mengatakan persoalan membuang sampah sembarangan dipicu oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat.

Oleh sebab itu ia mengatakan akan membangun komunikasi lebih maksimal terkait sosialisasi aturan hukum dan sanksi bagi pelaku buang sampah sembarangan.

Ia mengatakan Pemkot Padang telah membuat kebijakan pengelolaan sampah dengan aturan sampah dibuang ke tempat pembungan mulai pukul 17.00 WIB sampai pukul 05.00 WIB.

Terkait dengan sudah adanya relawan kebersihan yang sudah dibentuk namun perilaku masyarakat membuang sampah sembarangan masih tetap terjadi, ia mengatakan personel yang tersedia jumlahnya tidak sebanding dengan total penduduk kota Padang yang saat ini sudah mencapai satu juta jiwa.

Namun setidaknya apa yang dilakukan para petugas serta relawan kebersihan itu sesuatu yang patut dicontoh, dan seharusnya menggugah sikap peduli terhadap kebersihan lingkungan. 

Pewarta:
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar