Peneliti: intoleransi lahan subur bagi terorisme

Peneliti: intoleransi lahan subur bagi terorisme

Warga membubuhkan tanda tangan dan pesan di Deklarasi Jogja Damai Tolak Intoleransi di Kantor Kepatihan, DI Yogyakarta, Rabu (14/2/2018). (ANTARA /Hendra Nurdiyansyah)

Terorisme berakar pada radikalisme. Radikalisme berakar pada intoleransi, baik di dunia nyata maupun media sosial...
Jakarta (ANTARA News) - Intoleransi keagamaan merupakan lahan subur bagi terorisme menurut Koordinator Tim Riset Program Prioritas Nasional Membangun Narasi Positif Kebangsaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Pamungkas.

"Terorisme berakar pada radikalisme. Radikalisme berakar pada intoleransi, baik di dunia nyata maupun media sosial," kata Cahyo dalam sebuah diskusi publik tentang deradikalisasi yang diadakan LIPI di Jakarta, Kamis.

Cahyo menjelaskan bahwa radikalisme agama adalah bentuk-bentuk interpretasi keagamaan yang mendorong penganutnya, baik secara aktif maupun pasif, mendesakkan penggantian sistem politik yang berlaku di sebuah negara.

Sementara intoleransi adalah orientasi negatif atau penolakan seseorang terhadap hak-hak politik dan sosial dari kelompok yang tidak disetujui.

Berdasarkan definisi tersebut, karakter radikalisme adalah memiliki aspirasi untuk mengganti dasar negara dan sistem politik yang berlaku serta menolak hak-hak politik dan sosial dari kelompok yang tidak disetujui.

Dalam diskusi publik bertema "Memutus Mata Rantai Gerakan Terorisme, Mungkinkah?: Kegagalan dan Keberhasilan Deradikalisasi" itu dia juga menjelaskan bahwa ada empat kategori radikalisme dan intoleransi, yaitu radikalisme kekerasan, radikalisme non-kekerasan, intoleransi kekerasan dan intoleransi non-kekerasan.

Bukan produk instan

Sementara mantan narapidana kasus terorisme yang kemudian menjadi praktisi deradikalisasi Ali Fauzi Manzi mengatakan terorisme bukan produk instan yang lahir dari keputusan tunggal.

"Bukan sim salabim. Perlu proses panjang yang perlahan-lahan mendorong seseorang berkomitmen pada aksi kekerasan atas nama Tuhan," kata Ali, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi itu.

Ali mengibaratkan terorisme sebagai penyakit yang sudah mengalami komplikasi, yang penanganannya tidak bisa dilakukan menggunakan metode tunggal.

"Ibarat penyakit yang sudah komplikasi, perlu dokter spesialis dan kampanye pencegahan oleh mereka yang pernah mengalami penyakit ini. Saya salah satunya," kata Ali, yang pernah terlibat dalam pengeboman di Bali itu.

Sementara menurut Cahyo, mencegah masuknya paham radikal dan terorisme di tingkat keluarga merupakan kunci utama membendung penyebaran cepatnya karena "berkembangnya ideologi terorisme di masyarakat luas terjadi karena gerakan, gagasan atau ide radikalisme seringkali terjadi melalui keluarga."

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar