Penerimaan pajak capai Rp383,1 triliun hingga April

Penerimaan pajak capai Rp383,1 triliun hingga April

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (ANTARA /Hafidz Mubarak A)

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan penerimaan pajak hingga akhir April 2018 telah mencapai Rp383,1 triliun, lebih banyak dari periode sama tahun lalu sebesar Rp345,6 triliun.

"Pertumbuhan pajak ini baik dan meningkat, terutama pajak nonmigas," kata Sri Mulyani dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Sri Mulyani menjelaskan realisasi penerimaan pajak ini terdiri dari pajak nonmigas sebesar Rp362,2 triliun dan Pajak Penghasilan (PPh) dari sektor migas Rp21,1 triliun.

"Pajak nonmigas dan PPh migas ini lebih baik dari periode akhir April 2017 masing-masing sebesar Rp324,7 triliun dan Rp20,9 triliun," katanya.

Penerimaan pajak utama dari PPh Pasal 21, PPh Badan dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dalam Negeri juga tumbuh positif.

Penerimaan PPh Pasal 21 tercatat Rp41,28 triliun atau tumbuh 14,77 persen, PPh Pasal 22 Impor tumbuh 28,96 persen menjadi Rp18,06 triliun dan PPh Orang Pribadi tumbuh 19,79 persen menjadi Rp6,25 triliun.

Sementara penerimaan PPh Badan mencapai Rp90,47 triliun (tumbuh 23,55 persen), PPh Pasal 26 tercatat Rp13,82 triliun atau tumbuh negatif 4,27 persen, PPh Final Rp36,48 triliun atau tumbuh 12,74 persen, PPN DN Rp75,37 triliun atau tumbuh 9,53 persen dan PPN Impor tumbuh 25,07 persen menjadi Rp56,14 triliun.

"Penerimaan dari PPh Badan yang meningkat telah memperlihatkan adanya kegiatan ekonomi yang sangat menguat, karena tidak mungkin ada pembayaran pajak bila tidak ada aktivitas yang meningkat," kata Sri Mulyani.

Dengan penerimaan pajak ini, ditambah realisasi bea dan cukai Rp33,7 triliun, maka secara keseluruhan penerimaan perpajakan hingga 30 April 2018 mencapai Rp416 triliun.

Penerimaan perpajakan terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, perdagangan maupun pertambangan.

Penerimaan dari industri pengolahan mencapai Rp103,07 triliun (tumbuh 11,3 persen), perdagangan Rp76,41 triliun (tumbuh 29,4 persen) dan pertambangan Rp28,51 triliun (tumbuh 86,1 triliun).

"Kinerja sektor pertambangan yang tumbuh 86,1 persen ini karena adanya penguatan harga komoditas sejak akhir tahun 2017 dan volume produksi yang terjaga," kata Sri Mulyani.

Sementara penerimaan dari sektor konstruksi dan real estat tercatat tumbuh 12,64 persen Rp23 triliun, transportasi dan gudang tumbuh 16,6 persen menjadi Rp14,49 triliun, dan pertanian tumbuh 21,8 persen menjadi Rp7,47 triliun.

"Kinerja positif di transportasi dan gudang terjadi seiring adanya peningkatan ekonomi di e-commerce dan digital," kata Sri Mulyani.
 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar