Kementan rilis varietas padi gogo berproduktivitas tinggi

Kementan rilis varietas padi gogo berproduktivitas tinggi

Padi Larikan Gogo Super (LARGO SUPER) inovasi buatan Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian untuk peningkatan produksi padi di lahan kering (Handout)

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertanian merilis varietas baru padi gogo dengan hasil panen tinggi dan berumur pendek untuk pertanian di lahan kering yang disebut Inpago.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof Dr Dedi Nursyamsi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa dengan padi gogo varietas baru itu, Kementan semakin percaya diri untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 melalui pemanfaatan lahan kering, lahan rawa, dan lahan irigasi.

"Semua potensi lahan siap dikerahkan karena varietas unggul di setiap tipe lahan telah tersedia. Sebelumnya kita hanya bertumpu pada lahan irigasi," katanya.

Menurut Dedi, potensi lahan kering untuk pengembangan padi gogo sangat besar dari luas 80 juta ha lahan kering yang sesuai untuk padi gogo mencapai 24,7 juta ha.

Lahan tersebut terbagi menjadi lahan kering masam seluas 2 1 juta ha dan lahan kering iklim kering 3,7 juta ha.

Ia menambahkan, hasil riset Balitbangtan padi gogo itu dapat dipanen dengan hasil 7-10 ton per ha pada umur 110 hari.

"Kita tak usah muluk-muluk, cukup hasilnya 4 ton per hektare, Indonesia sudah surplus pangan," kata Dedi.

Itu bila dilakukan ekstensifikasi padi gogo ke lahan kering seluas 1 juta ha dengan indeks pertanaman 150.

Dari situ setiap tahun ada tambahan produksi padi yang sangat signifikan sebesar 6 juta ton GKG.

Saat ini varietas padi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian berupa inbrida padi gogo (Inpago) yang dikenal sebagai padi ladang atau padi gogo.

Inpago 12 g potensi hasilnya 10,2 ton/ha dan pada umur 111 hari serta toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan serta tahan penyakit blas ras 033.

Varietas itu jauh lebih unggul dibanding varietas lokal yang hanya 1-2 ton/ha dengan umur panen 6 bulan.

Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor Dr Ismail Wahab, mengatakan varietas padi gogo lainnya adalah Inpago 9 dan Inpago Rindang 2 Agritan.

Untuk Inpago 9 hasil panen 8,4 ton/ha dengan umur 109 hari, agak toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan agak tahan terhadap penyakit blas ras 133.

Sementara Inpago Rindang 2 Agritan merupakan padi gogo khusus untuk intercropping dengan tanaman perkebunan seperti kelapa, karet.

"Walaupun ternaungi, hasilnya bisa 7,39 ton/ha," kata Ismail.

Varietas itu juga tahan terhadap cekaman abiotik, toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al.

Baca juga: Pemerintah siapkan 1.000 pengering padi untuk petani

Baca juga: Pemkab Pandeglang dorong pemuda jadi petani

Baca juga: Indonesia butuh tanah sehat untuk lumbung pangan


Peneliti Balai Besar Litbang Padi, Sukamandi, Dr Aris Hairmansis, mengatakan Badan Litbang Pertanian sebenarnya sudah memiliki belasan varietas padi gogo unggul dengan ciri khas keunggulan masing-masing.

Misalnya Inpago 8 dan Inpago 10 yang rasanya pulen sehingga disukai suku Sunda, Jawa, dan Sulawesi.

Ada pula Inpago 9 dan Inpago 11 yang rasanya pera sehingga sangat disukai masyarakat Minang (Sumbar dan Riau) dan suku Banjar (Kalsel dan Kaltim).

Selain itu varietas Situpatenggang yang wangi dan Inpago 7 yang tergolong beras merah.

Menurut Direktur Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Syahroni, SP, hadirnya varietas padi ladang berproduksi tinggi dan berumur pendek mematahkan anggapan cita-cita lumbung pangan dunia hanya bisa terwujud dari sawah irigasi.

"Justru padi ladang menjadi harapan bagi Indonesia. Ia tidak rakus air dan dapat ditanam di manapun," kata Syahroni.

Dulu, menurut Syahroni, padi ladang sempat dianggap sebelah mata karena hasil panen hanya 1-2 ton per ha.

Baca juga: Penangkaran VUB Padi BPTP-Poktan mulai dipanen

Baca juga: Varietas Inpari 42 dan 43 Gantikan Ciherang

Baca juga: UPBS BPTP Balitbangtan Sumut panen padi varietas unggul baru

Pewarta:
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar