counter

WWF ikut dorong praktik berkelanjutan jasa keuangan di Singapura

WWF ikut dorong praktik berkelanjutan jasa keuangan di Singapura

Peluncuran Arah Jalan Keuangan Berkelanjutan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya (kiri) bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad (kanan) memperlihatkan buku pedoman Energi Bersih saat hadir dalam peluncuran Arah Jalan Keuangan Berkelanjutan (Roadmap Sustainable Finance) di Jakarta, Jumat (5/12). Peluncuran Arah Jalan Keuangan Berkelanjutan ini merupakan salah bentuk pelaksanaan Nota Kesepahaman Antara OJK dan Kementerian Lingkungan Hidup yang bertujuan menjabarkan kondisi yang ingin dicapai terkait keunagan yang berkelanjutan di Indonesia dalam jangka menengah (2015-2019) dan panjang (2015-2024). (ANTARA FOTO/Teresia May)

Khususnya guna membangun perekonomian nasional dan global yang tangguh, rendah emisi karbon dan berketahanan iklim (climate resilient economy)
Jakarta (ANTARA News) - WWF bergabung dengan platform multipihak yang mendorong arah aliran dari berbagai lembaga jasa keuangan yang berbasis di Singapura untuk fokus pada pembangunan berkelanjutan melalui Asia Sustainable Finance Initiative (ASFI).

Menurut Kepala Program Keuangan Berkelanjutan WWF-Indonesia Rizkiasari Yudawinata di Jakarta, Selasa, platform  multipihak tersebut akan menyatukan industri keuangan, akademisi dan organisasi berbasis ilmu pengetahuan, untuk mendukung lembaga jasa keuangan yang berbasis di Singapura dan beroperasi di kawasan Asia dalam meningkatkan keahlian keuangan berkelanjutan mereka.

WWF, menurut Rizkiasari, menyambut baik diluncurkannya inisiatif tersebut. Ini menandakan bahwa keuangan berkelanjutan sudah menjadi agenda utama para pemerintah dan industri di berbagai negara, termasuk di Indonesia. 

Misalnya di Indonesia, delapan bank yang mewakili 49,5 persen aset perbankan nasional telah meluncurkan platform Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI) pada Mei 2018,  untuk mendorong penerapan keuangan berkelanjutan inklusif, katanya.

Menurut dia, sektor keuangan berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan melalui kemampuannya untuk mempengaruhi perusahaan dalam mengadopsi praktik terbaik dan mengarahkan aliran keuangan ke arah pembangunan berkelanjutan. 

Pada saat yang sama, lanjutnya, transisi ekonomi yang berkelanjutan ini memberikan peluang untuk wilayah Asia, diprediksi setidaknya hingga 2030, peluang investasi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di wilayah ini saja dibutuhkan sekitar 5 triliun dolar AS.

Tren industri keuangan berkelanjutan ditandai oleh sejumlah inisiatif seperti ASFI regulasi yang kian bertumbuhan untuk mempercepat integrasi prinsip-prinsip Tata Kelola, Lingkungan dan Sosial (LST) ke dalam pengambilan keputusan keuangan, menangkap peluang investasi dan untuk memastikan bahwa kontribusi sektor ini konsisten dengan Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). 

Selain di Singapura dan Indonesia, negara lain seperti Mongolia, Hong Kong, Cina dan di Uni Eropa juga sudah mempunyai inisiatif yang serupa. Termasuk platform yang melibatkan regulator seperti Sustainable Banking Network (SBN), Network of Central Banks and Supervisors for Greening the Financial System (NGFS), G20 Sustainable Finance Study Group serta Financial Stability Board-Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD).

“Harapannya, berbagai inisiatif keuangan berkelanjutan yang ada, ke depannya dapat saling bersinergi dan berkolaborasi agar industri jasa keuangan di manapun akan siap dengan pergeseran pembangunan ekonomi yang tengah terjadi. Khususnya guna membangun perekonomian nasional dan global yang tangguh, rendah emisi karbon dan berketahanan iklim (climate resilient economy),” kata Rizkiasari.

Sementara itu, Head of Asia Sustainable Finance WWF Internasional Jeanne Stampe mengatakan tantangan lingkungan dan sosial yang mendesak dewasa ini mengancam stabilitas politik dan ekonomi Asia dan membahayakan ketahanan sektor keuangan regional. 

Dengan bekerja di bawah platform berbasis multipihak yang terdiri dari para mitra yang memiliki pengetahuan berbasis sains lainnya, pihaknya dapat memfasilitasi transisi yang tertata ke ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi semua orang sekaligus melindungi sumber daya alam yang menjadi tumpuan utama segala bisnis dan kehidupan masyarakat, kata Jeanne. 

Dengan ASFI, sejumlah organisasi akan berkolaborasi sebagai Mitra Pengetahuan berkolaborasi untuk menghasilkan kajian, tools, maupun kerangka kerja untuk keuangan berkelanjutan. Inisiatif ini akan membangun langkah-langkah yang telah dibuat sejauh ini dalam pengembangan ekosistem untuk keuangan berkelanjutan di Singapura dan lebih jauh di Asia, seperti mengenalkan pedoman pembiayaan berkelanjutan, bekerja dengan Singapore Exchange Limited (SGX) dan Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan peningkatan kapasitas bersama asosiasi.

Sejumlah pihak yang ikut bergabung menjadi Mitra Pengetahuan dalam multiplatform ASFI selain WWF antara lain Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC), CDP Centre for Governance Institutions, and Organizations, National University of Singapore (NUS), Global Canopy Oxford Sustainable Finance Programme, University of Oxford Sustainable Earth Office, Nanyang Technological University (NTU), UNEP Finance Initiative (UNEP FI), United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), World Resources Institute (WRI), 2° Investing Initiative. 

 

Baca juga: Indonesia prakarsai pertemuan ASEAN dorong pembangunan berkelanjutan

Baca juga: Menkeu: keuangan syariah wujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan

Baca juga: KLHK dan OJK luncurkan "Arah Jalan Keuangan Berkelanjutan"


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wapres JK tekankan perencanaan bottom-up untuk pembangunan

Komentar