counter

Mengembalikan kejayaan kemaritiman Indonesia berbasis jalur rempah

Oleh Azis Kurmala

Mengembalikan kejayaan kemaritiman Indonesia berbasis jalur rempah

Rempah Indonesia yang dipamerkan dalam International Forum on Spice Route (IFSR) 2019 di Museum Nasional, Jakarta. (ANTARA/Ade Irma Junida) (ANTARA/Ade Irma Junida/)

Nusantara sejatinya menjadi poros penghubung antara timur, barat, utara dan selatan. Dari Tiongkok, Timur Tengah hingga Eropa
Jakarta (ANTARA) - Nusantara telah menjadi pemain penting dalam perdagangan dunia dan negara pemasok utama komoditas penting di dunia yaitu rempah-rempah.

Kemasyhuran Nusantara sebagai negeri pemasok rempah-rempah telah lama dikenal jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara.

Diperkirakan bahwa dalam perjalanan waktu dan pada skala dunia, 400-500 spesies tanaman telah dipergunakan dan dikenal sebagai rempah. Di Asia Tenggara sendiri, jumlahnya mendekati 275 spesies.

Rempah-rempah digunakan untuk mengawetkan makanan, bumbu masakan, bahkan obat. Karena khasiatnya, rempah-rempah sangat laku di pasaran dan harganya pun mahal.

Nilai rempah-rempah yang tinggi mendorong orang-orang Eropa menjelajahi jalur pelayaran ke wilayah yang banyak memiliki bahan rempah-rempah, termasuk kepulauan Nusantara, Indonesia.

Dalam perkembangannya, bangsa Eropa berdagang dan menguasai sumber rempah-rempah di negara penghasil. Sejak itu, dimulailah era kolonisasi Barat di Asia.

"Jadi, bayangkan saja. Ketika Eropa belum memiliki banyak pengetahuan tentang berbagai komoditas, rempah-rempah dari dunia Timur telah menyediakan khasiat, cita rasa dan aroma yang dipergunakan sebagai bumbu masak, penawar racun dan obat, bahkan sampai bahan pengawet," ujar Ketua Yayasan Negeri Rempah Bram Kushardjanto.

Hal tersebut diungkapkan Bram Kushardjanto dalam International Forum on Spice Route (IFSR) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dengan peran sepenting itu, lanjut dia, rempah-rempah menjadi komoditas utama yang mampu mempengaruhi kondisi politik, ekonomi maupun sosial budaya dalam skala global.

Para raja mengirim ekspedisi mengarungi samudera untuk mencarinya; pedagang mempertaruhkan nyawa dan kekayaannya; perang demi perang memperebutkannya; dunia bergolak dan sejarah peradaban manusia berubah, ucap Bram Kushardjanto.

Poros perdagangan rempah-rempah global Asia, India–Nusantara–Tiongkok, melalui perairan Hindia hingga Pasifik meninggalkan jejak peradaban yang signifikan.

Terletak di sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, lanjut Bram, Nusantara dari masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun.

Sebagai akibat dari lalu lintas laut yang padat ke Asia Timur, Timur Tengah, Eropa dan sebaliknya, banyak peradaban berinteraksi; bertukar pengetahuan, pengalaman, dan budaya, tutur Bram.

Sementara itu, Sejarawan Australia National University, Anthony Reid, mengatakan 60 persen jenis rempah di dunia ada di Indonesia.

Rempah, lanjut dia, menjadi komoditas yang dicari para pedagang dari seluruh dunia pada ratusan tahun lalu.

Jalur rempah pada masa itu juga menghubungkan Nusantara dengan dunia. Dalam konteks kemaritiman, lanjut Reid, Nusantara pusat pertemuan global khususnya pada 1480-1650.

Ia juga mengungkapkan jalur rempah bukan hanya terkait dengan perdagangan rempah, melainkan juga pertukaran tradisi, agama, pengetahuan, bahasa, sosial, teknologi, dan pengetahuan. Faktor-faktor lain itulah yang membuat para pedagang asing singgah dan berbisnis di Nusantara.

Selain itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah Hassan Wirajuda mengatakan Warisan budaya maritim dalam jejak perniagaan global ini menjadi semakin penting untuk diangkat, dikaji dan dimaknai kembali.

Apalagi ketika dewasa ini banyak bergulir pertarungan konsep seperti Jalur Sutera Maritim yang diusung Tiongkok, maupun ragam konsep tentang wawasan Indo-Pasifik yang kesemuanya menuntut Indonesia untuk mengambil peranan yang penting, ungkap mantan Menteri Luar Negeri RI itu.

Karena itu, lanjut Hassan Wirajuda, pemerintah harus menengok kembali sejarah masa lalu kemaritiman Indonesia untuk memajukan budaya maritim.

Hassan mengatakan masyarakat bisa belajar baik dari sisi baik dan buruk masa lalu bangsa ini sebagai upaya untuk memajukan Indonesia.

Salah satu cara mengingat kembali sejarah masa lalu kemaritiman Indonesia, lanjut dia, Yayasan Negeri Rempah menyelenggarakan International Forum on Spice Route (IFSR) pada 19-24 Maret 2019 di Jakarta.

Bertema Reviving the World’s Maritime Culture through the Common Heritage of Spice Route, IFSR menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali peranan penting Indonesia dalam skala global.

Hassan Wirajuda mengatakan IFSR mengingatkan kembali salah satu kekayaan warisan bangsa Indonesia, yaitu jalur rempah.

Forum ini menjadi sarana pertukaran pengetahuan, ide maupun konsep antar budaya, ujar Hassan Wirajuda.

Sementara itu, Staf Ahli bidang Sosio-Antropologi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Tukul Rameyo Adi mengatakan saat ini adalah saat yang tepat bagi Indonesia untuk mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai bangsa samudera dan tidak hanya dikenal sebagai bangsa pelaut.

"Nusantara sejatinya menjadi poros penghubung antara timur, barat, utara dan selatan. Dari Tiongkok, Timur Tengah hingga Eropa," kata dia.

Rameyo adi mengatakan Nusantara sejak lama dikenal sebagai bangsa pedagang dan pelaut yang tangguh mengarungi samudera. Rempah adalah salah satu komoditas nusantara dari masa ke masa, ujar dia.

"Dalam konteks yang lebih strategis, forum ini meletakkan Indonesia ke dalam percaturan perbincangan dunia (dimulai dari wilayah regional Asia Tenggara) dengan perspektifnya yang unik dalam memaknai sejarah perdagangan maritim dari masa ke masa," ujar Tukul Rameyo Adi.

IFSR menjadi forum pertukaran pengetahuan dan pemahaman antar budaya, dengan mengedepankan kekuatan warisan budaya serta semangat multikulturalisme melalui narasi sosio-kultural-historis jalur rempah dan perdagangan maritim yang relevan dengan konteks kekinian.

Forum tersebut dihadiri para pembicara, narasumber ahli, akademisi dari Indonesia dan negara-negara sahabat, yakni Australia, Amerika Serikat, Filipina, India, Jerman, Korea, Malaysia, dan Portugal.

Melalui para narasumber dari negara-negara sahabat yang juga memiliki warisan budaya maritim tersebut, masyarakat luas dapat turut merayakan kesamaan maupun perbedaan budaya.

Baca juga: Perlu kemauan keras untuk kembalikan kejayaan rempah Indonesia

Baca juga: IFSR ingatkan kembali jalur rempah Indonesia

Baca juga: Hassan Wirajuda minta warisan budaya maritim dimaknai kembali


Oleh Azis Kurmala
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar