counter

Penggunaan bus listrik dapat mendorong efisiensi energi fosil

Penggunaan bus listrik dapat mendorong efisiensi energi fosil

Penumpang turun dari bus listrik usai mengikuti uji coba di halaman Balai Kota, Jakarta, Senin (29-4-2019). Pemprov DKI Jakarta bersama PT TransJakarta dan PT Bakrie & Brother Tbk. menyelenggarakan uji coba bus listrik yang bertujuan untuk memastikan penggunaan kendaraan listrik sebagai alat transportasi umum di Jakarta. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat lingkungan perkotaan yang notabene Direktur Eksekutif Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal Ahmad Safrudin mengatakan penggunaan bus listrik dapat mendorong efisiensi energi fosil.

"Bus listrik bagus untuk pengendalian pencemaran udara dan gas rumah sekaligus efisiensi energi," kata Ahmad Safrudin di Jakarta, Senin.

Ahmad Safrudin menjelaskan bahwa konsep teknologi bus listrik mengganti sistem mesin penggerak diesel berbahan bakar minyak yang menghasilkan polutan menjadi berbahan bakar listrik yang ramah lingkungan. Bus listrik mampu menghemat penggunaan energi fosil, terutama minyak bumi.

Baca juga: Organda dukung penerapan bus listrik Jabodetabek

"Bus listrik lebih efisien 219 persen dibanding bus diesel karena energy lost bus diesel kisaran 59 s.d. 61 persen, sedangkan energy lost bus listrik hanya 10 persen," paparnya.

Safrudin menuturkan bahwa penggunaan bus listrik mampu menekan biaya operasional bahan bakar sekaligus menjaga ketahanan energi pada sektor transportasi darat.

Tingginya angka efisiensi energi pada bus listrik juga dapat mengurangi pencemaran udara dan mengendalikan efek rumah kaca yang selama ini menjadi persoalan lingkungan bagi kawasan perkotaan di Indonesia, khususnya Jakarta.

"Bus listrik dapat mengurangi emisi meski tidak begitu signifikan karena jumlah kendaraan umum masih relatif kecil antara 2 persen dan 5 persen. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengatur volume kendaraan pribadi yang mencapai 95 sampai dengan 98 persen," ujarnya.

Safrudin menambahkan bahwa konversi bus diesel menjadi bus listrik juga harus mempertimbangkan suplai energi.

Pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTB) saat ini masih dominan sebagai suplai energi listrik di Jakarta sehingga pemerintah perlu mengembangkan sektor energi baru terbarukan yang bersumber dari matahari, angin, maupun air.

Baca juga: Penerapan bus listrik Transjakarta masih terkendala regulasi

Sebelumnya, beberapa operator penyedia jasa layanan trasportasi darat telah menandatangani perjanjian kerja sama pengoperasian bus listrik, antara lain, Perum Damri, PPD, dan Kopaja.

Pada tahun depan, Badan Pengelola Transpotasi Jabodetabek (BPTJ) menargetkan ada 1.000 unit bus listrik yang akan beroperasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Hal itu diklaim selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta (RITJ) mengenai transportasi ramah lingkungan.

Transportasi Ramah Lingkungan di IPB

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar