Indeks FTSE-100 Inggris berakhir naik didorong harapan Brexit Januari

Indeks FTSE-100 Inggris berakhir naik didorong harapan Brexit Januari

FTSE-100 di London, Inggris. (ftse.co.uk)

London (ANTARA) - Saham-saham Inggris naik pada akhir perdagangan Jumat (13/12/2019), karena pasar mengharapkan kemenangan besar Partai Konservatif dalam Pemilihan Umum 12 Desember akan membuka jalan bagi Brexit pada Januari 2020 untuk mengakhiri ketidakpastian.

Indeks acuan FTSE 100, yang terdiri dari perusahaan multinasional, bertambah 1,10 persen atau 79,97 poin, menjadi ditutup pada 7.353,44.

FTSE 250, dengan fokus lebih domestik, naik 3,44 persen atau 714,76 poin, menjadi berakhir di 21.507,79. FTSE 250 sempat melonjak lebih dari lima persen pada satu titik.

Saham-saham dengan kinerja terbaik termasuk perusahaan pembangunan rumah, bank dan utilitas. Taylor Wimpey, pengembang perumahan, menjadi peraih keuntungan teratas (top gainer) dari saham-saham unggulan atau blue chips, melonjak 14,68 persen.

Diikuti oleh saham perusahaan pengembang properti residensial terbesar di Inggris, Barratt Developments yang melambung 14,01 persen, serta pengembang properti lainnya Berkeley Group Holdings melompat 13,99 persen.

Baca juga: Bursa saham Inggris melonjak, Indeks FTSE-100 ditutup naik 57,22 poin

Sementara itu, Polymetal International, sebuah perusahaan pertambangan logam mulia, menderita kerugian terbesar (top loser) di antara saham-saham unggulan, dengan harga sahamnya jatuh 3,24 persen.

Disusul oleh saham perusahaan pertambangan logam mulia berbasis di Meksiko Fresnillo yang merosot 3,05 persen, perusahaan teknik yang berbasis di Inggris Rolls-Royce Holdings turun 2,56 persen.

Pemimpin Partai Konservatif Boris Johnson telah memimpin partainya untuk memenangkan 365 kursi dari 650 kursi di Majelis Rendah Parlemen Inggris.

Baca juga: Indeks FTSE-100 Inggris berakhir naik tipis 0,04 persen

Johnson telah berjanji untuk "menyelesaikan Brexit" dan membawa negara itu keluar dari Uni Eropa (UE) pada 31 Januari 2020 untuk mengakhiri ketidakpastian yang telah mempersuram ekonomi sejak referendum Brexit pada 2016.

Berjuang untuk memberikan Brexit dengan pemerintahan minoritas, Perdana Menteri Johnson menyerukan pemilihan umum pada Desember untuk memecahkan kebuntuan politik.

Baca juga: Indeks FTSE-100 Inggris ditutup melemah 0,28 persen

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar