Artikel

Menyongsong era baru kemitraan bisnis Belanda-Indonesia

Oleh Rahmad Nasution

Menyongsong era baru kemitraan bisnis Belanda-Indonesia

Menteri Infrastruktur dan Manajemen Air Belanda Cora van Nieuwenhuizen dan Kepala Misi Dagang negara itu, Hans de Boer, berdialog dengan delapan jurnalis Indonesia di Den Haag, Senin (17/2). ((ANTARA/Rahmad Nasution))

Kami datang untuk memperkuat hubungan kami dengan Indonesia
Den Haag (ANTARA) - Kunjungan kenegaraan Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima pada 10-13 Maret 2020 semakin memperteguh posisi Indonesia sebagai mitra dagang dan investasi terpenting Belanda di kawasan Asia Tenggara.

Posisi penting Indonesia bagi dunia usaha Belanda itu disampaikan Kepala Misi Dagang negara itu, Hans de Boer, saat bertemu dengan delapan jurnalis Indonesia di Kantor Konfederasi Industri dan Pengusaha Belanda (VNO-NCW) di Den Haag, Senin.

Menurut Hans, rombongan besar misi dagang yang mewakili 135 perusahaan Belanda, termasuk usaha kecil dan menengah, menyertai kunjungan kenegaraan Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima atas undangan Presiden Joko Widodo itu.

"Kami sangat bersemangat membangun kerja sama dengan mitra usaha kami dari Indonesia," kata ekonom dan pengusaha kelahiran Witmarsum, Belanda, 17 Januari 1955 ini.

Kedudukan Belanda sendiri sangat penting bagi Indonesia dalam hubungannya dengan perdagangan dan investasi.

Dalam perdagangan bilateral, Belanda masih mengalami defisit di tengah posisinya sebagai investor terbesar di Indonesia di antara negara-negara anggota Uni Eropa, kata Hans.

Negara berpenduduk 17,24 juta jiwa dengan tingkat kepadatan per kilometer persegi mencapai 509 jiwa (2019) itu tercatat sebagai investor terbesar kelima di Indonesia dengan total investasi mencapai 2,6 miliar dolar AS.

Posisi Belanda berada di bawah Singapura yang mencatat total nilai investasi mencapai 6,5 miliar dolar AS, China (4,7 miliar dolar AS), Jepang (4,3 miliar dolar AS), dan Hong Kong (2,9 miliar dolar AS).

Adapun defisit perdagangan Belanda dengan Indonesia pada 2019 mencapai 806 juta Euro. "Realitas ini menunjukkan betapa pentingnya kami bagi Anda (Indonesia)," kata Hans.
Salah satu produk perusahaan Belanda yang bermitra dengan banyak petani rempah di Indonesia. ((ANTARA/Rahmad Nasution))

Kendati dari luas wilayah dan penduduk, Belanda merupakan negara kecil namun kekuatan ekonominya berada di posisi 16 besar dunia. "Kami sangat terbuka dan berorientasi ekspor," katanya.

Untuk memperluas pasar ekspor negaranya, Hans memandang Asia Tenggara sebagai pilihan yang tepat karena pertumbuhan ekonomi kawasan itu lebih cepat dibanding Uni Eropa.

Dalam hal ini, sebagai kekuatan ekonomi dan pasar terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dipandang sebagai pasar potensial bagi Belanda, katanya dalam pertemuan yang turut dihadiri Menteri Infrastruktur dan Manajemen Air Cora van Nieuwenhuizen itu.

Bagi sejumlah perusahaan Belanda, Indonesia bukanlah pasar baru karena mereka telah sejak lama hadir di negara berpenduduk lebih dari 267 juta jiwa itu. Di antaranya Unilever Indonesia, Frisian Flag Indonesia, Shell, dan Multi Bintang.

Di antara perusahaan-perusahaan Belanda yang telah beroperasi di Indonesia itu, menurut Hans, ada yang ingin memperluas investasinya. Tak hanya itu, pihaknya pun mendorong UKM Belanda yang berorientasi ekspor agar melirik pasar Asia Tenggara.

Sepuluh tahun dari sekarang, pihaknya ingin membantu usaha-usaha kecil dan menengah negaranya menembus pasar Asia Tenggara. Untuk membantu mereka mengenal karakteristik pasar, Hans memandang penting strategi dua trek dan pertemuan dua level.

Dalam trek pertama, UKM-UKM Belanda yang baru dikenalkan dengan pasar Indonesia sedangkan pada trek dua, perusahaan-perusahaan negaranya yang sudah eksis di Indonesia tetap menggali potensi untuk lebih meneguhkan eksistensinya.

Selain itu, didorong pula pertemuan dua level, yakni pertemuan antarpemerintah dan pertemuan antarpebisnis. Lalu, keduanya bertemu dalam forum bisnis. "Kami datang untuk memperkuat hubungan kami dengan Indonesia," kata Hans de Boer.

Dalam beberapa tahun terakhir, delegasi pemerintah dan misi dagang Belanda telah berulang kali ke Indonesia. Dalam satu kunjungan Perdana Menteri Mark Rutte ke Jakarta bahkan ditandatangani 38 nota kesepahaman (MoU) dan "letter of intent".

Bagaimana nasib puluhan nota kesepahaman dan "letter of intent" tentang kerja sama di berbagai sektor, seperti manajemen air, proteksi banjir, perubahan iklim dan layanan kesehatan itu saat ini?

Dalam pertemuan dengan delapan jurnalis Indonesia di kantor VNO-NCW, Den Haag, itu, Menteri Infrastruktur dan Manajemen Air Cora van Nieuwenhuizen menegaskan bahwa MoU-MoU yang telah ditandatangani tersebut benar-benar ditindaklanjuti.

Politisi Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) kelahiran 12 Juni 1963 itu memaparkan poin-poin konkret dari tindaklanjut isi MoU dan "letter of intent" yang telah ditandatangani tersebut.
Di area kerja Galangan Kapal Damen Belanda ((ANTARA/Rahmad Nasution))

Di antara aksi nyata terhadap isi MoU tentang kerja sama manajemen air, misalnya, kedua pihak telah pun membentuk komite pengarah dan pihaknya mengirim dua tim ke Semarang, Jawa Tengah.

Terkait pembangunan kawasan pantai terintegrasi di ibu kota (NCICD), program kerja sama trilateral Belanda, Indonesia, dan Korea Selatan ini pun ditindaklanjuti, katanya.

Baca juga: Raja dan Ratu Belanda kunjungi Indonesia pada 10-13 Maret

Dalam kunjungan kenegaraan Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima pada 10-13 Maret itu, kerja sama bidang ekonomi, konservasi alam, budaya, dan sains, dan sejumlah sektor lain yang meneguhkan keterikatan erat kedua bangsa akan menjadi fokus.

Kerja sama bidang ekonomi Belanda-Indonesia itu akan ditekankan pada sektor pertanian, layanan kesehatan, industri bahari dan perlindungan pantai, serta ekonomi sirkular.

Delegasi besar misi dagang yang menyertai kunjungan raja dan ratu Belanda itu, seperti dikatakan Hans de Boer, akan menjajaki potensi kerja sama ekonomi tersebut.

Di bidang pertanian, misalnya, sebagai raksasa pertanian dunia dengan nilai ekspor pangan berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat, Belanda dapat terus berbagi pengalaman dan keunggulannya dalam pertanian pintar dengan Indonesia.

Demikian pula dengan industri galangan kapal dan teknologi maritim, keunggulan dan pengalaman panjang Galangan Kapal Damen dan Royak IHC, misalnya, berpotensi terus mengembangkan kemitraan bisnisnya dengan Indonesia.

Baca juga: Denyut mitigasi bencana Belanda

Baca juga: Cara Belanda selamatkan Jakarta

Oleh Rahmad Nasution
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Keris yang dikembalikan Belanda asli milik Pangeran Diponegoro

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar