Vaksin corona benarkah bisa ditemukan 18 bulan ke depan?

Vaksin corona benarkah bisa ditemukan 18 bulan ke depan?

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Dua ahli kesehatan di Amerika Serikat belum lama ini mengungkapkan keyakinan mereka kandidat vaksin virus corona baru COVID-19 bisa dikembangkan dan ditemukan segera.

Salah satunya Menteri Kesehatan Amerika Serikat, Alex Azar yang meyakini kandidat vaksin bisa ditemukan dalam tiga hari, dengan uji klinis yang sudah dilakukan.

Baca juga: Kemristek kembangkan vaksin COVID-19 dalam waktu 12 bulan

Lalu, ahli penyakit infeksi untuk Gedung Putih, Dr. Anthony Fauci yang menyatakan kemungkinan vaksin bisa didapatkan 12-18 bulan.

Namun, para ahli kesehatan lain dan ilmuwan tak seyakin kedua orang itu. Penemu vaksin rotavirus di akhir akhir tahun 1990-an, Paul Offit misalnya.

"Ketika Dr. Fauci berkata 12-18 bulan, saya pikir itu terlalu optimis," kata dia kepada CNN.

CEO International AIDS Vaccine Initiative, Mark Feinberg mengatakan, membutuhkan waktu 15-20 tahun agar vaksin disetujui.

Vaksin harus diuji di laboratorium, kemudian pada hewan, sebelum diuji keamanannya pada sekelompok kecil orang. Setelah itu, uji coba dilakukan pada lebih banyak orang untuk melihat apakah vaksin dapat mencegah penyakit.

Misalnya, vaksin untuk jenis virus corona lainnya yakni MERS dan SARS - membutuhkan waktu lebih dari 18 bulan untuk dikembangkan.

Setelah SARS mewabah pada tahun 2003, setidaknya butuh waktu 20 bulan untuk dilakukan pengujian pada manusia. Wabah telah mereda pada saat itu, dan vaksin yang sedang dikembangkan sampai 2016 akhirnya ditunda.

Kabar baiknya mengenai COVID-19 atau secara teknis disebut SARS-CoV-2, sekitar 80-90 persen susunan genetiknya sama dengan SARS-CoV.

Ini berarti perusahaan farmasi bisa menggunakan kembali teknologi yang mereka gunakan untuk membuat vaksin SARS dan MERS pada COVID-19.

Baca juga: Perusahaan Jepang kembangkan obat untuk virus corona


Pengujian pada hewan dan manusia
Beberapa ilmuwan khawatir vaksin yang dibuat tergesa-gesa justru bisa melemahkan respons seseorang terhadap virus ketika mereka tertular.

Sebagai contoh, satu studi tentang vaksin SARS pada tahun 2004 menemukan, beberapa musang mengembangkan hepatitis, bukannya ketahanan terhadap virus corona.

Cara untuk mengurangi risiko itu, yakni mengujinya pada hewan. Tetapi dalam ketergesaan menemukan vaksin corona baru, beberapa pengembang melewatkan percobaan pada hewan, ungkap Stat News.


Harapan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sudah ada sekitar 40 vaksin untuk virus corona yang sedang dikembangkan.

Tetapi Bruce Gellin, kepala program imunisasi global di Sabin Vaccine Institute, mengatakan ini tidak berarti akan ke-40 vaksin berfungsi.

Namun, ada tanda-tanda menggembirakan tentang vaksin virus corona baru. Perusahaan bioteknologi Moderna yang berbasis di Massachusetts mulai menguji vaksin mereka pada manusia pada Maret lalu.

Moderna menggunakan metode yang baru, belum diuji, dan belum disetujui. Perusahaan ini hanya membutuhkan informasi genetik virus corona untuk dapat bekerja pada vaksinnya, kata CEO perusahaan biotek Stephane Bancel kepada Business Insider.

Di sisi lain, Novavax berharap bisa menguji vaksinnya pada manusia pada musim semi 2020 ini.

Perusahaan obat-obatan Johnson & Johnson telah meneliti vaksin virus corona baru sejak Februari dan menyatakan akan memulai ujicoba vaksin pada manusia sekitar bulan September mendatang.

"Orang-orang saya akan membunuh saya jika saya mengatakan bisa lebih awal dari itu," kata Paul Stoffels, kepala ilmuwan J&J.


Baca juga: Burberry danai penelitian untuk vaksin COVID-19

Baca juga: Konsorsium pun disiapkan untuk mengembangkan vaksin COVID-19

Baca juga: Menristek: Eijkman dan Bio Farma intensif upayakan pembuatan vaksin

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemerintah ajak masyarakat beradaptasi hingga vaksin COVID-19 ditemukan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar