Artikel

Yuk atasi kecemasan di fase normal baru dengan "mindfulness"

Oleh Nanien Yuniar

Yuk atasi kecemasan di fase normal baru dengan "mindfulness"

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Ketenangan batin diperlukan dalam menghadapi situasi tak menentu yang telah terjadi akibat wabah virus corona, salah satu caranya dengan mempraktikkan teknik "mindfulness".

Kecemasan yang berlebihan dapat berimbas pada kesehatan fisik, membuat fungsi tubuh tidak optimal. Psikiater Elisa Tandiono dari RS Pantai Indah Kapuk juga menyarankan agar orang-orang mempraktikkan "mindfulness" agar tidak terjebak dalam rasa cemas yang tak berujung.

Baca juga: Pakar kejiwaan UGM sebut wanita rentan stres selama pandemi COVID-19

Baca juga: Stres corona? awas psoriasis bisa kambuh


Apa itu "mindfulness"?

"Mindfulness" adalah melatih pikiran agar sadar secara penuh dan hadir secara utuh saat ini. Pikiran dipusatkan kepada apa yang terjadi saat ini, tidak mengembara ke masa lalu atau masa depan.

"'Mindfulness' adalah menempatkan kesadaran pada momen saat ini," kata praktisi Mindfulness dari Mindfulness Indonesia Zaneti Sugiharti kepada ANTARA.

Baca juga: Dawon Cosmic Girls terpaksa rehat karena gangguan kecemasan

Baca juga: Tidak ingin cemas justru perparah kecemasan

Baca juga: Omega-3 menyehatkan tapi tak mampu atasi kecemasan


Semua aktivitas, sesederhana apa pun, bisa dijalani dengan teknik "mindfulness". Ketika sedang minum kopi, Anda bisa memusatkan perhatian kepada aroma kopi, kehangatan cangkir dan rasanya di mulut Anda.

Metode ini jadi tren yang semakin meningkat dalam 15 tahun belakangan seiring pencarian metode alternatif penanganan gangguan mental dan psikologis.

Dalam fase normal baru, ketakutan mengenai virus corona wajar dialami. Lewat metode ini, orang-orang diajak untuk menghadapi kecemasan dengan fokus melakukan apa yang bisa dikontrol, bukan apa yang ada di luar kontrol.

Dia mencontohkan cara menghadapi kekhawatiran tertular virus corona saat naik kendaraan umum untuk pergi ke kantor.

Daripada membayangkan kemungkinan terburuk, lebih baik perhatian dipusatkan untuk melakukan segala tindak pencegahan dengan protokol kesehatan.

"Andalkan apa yang bisa dilakukan dengan panca indera. Pakai masker, hand sanitizer, jaga jarak, jangan sentuh bagian yang berisiko. Jalani saja, jangan fokus apa yang belum terjadi atau hal lain yang di luar momen saat ini," tutur dia.

Baca juga: Dokter: Kecemasan akibat COVID-19 merupakan bentuk adaptasi normal

Baca juga: Kurang konsumsi sayur sebabkan mudah cemas, benarkah?

Baca juga: Alami gangguan kecemasan, Jiho "Oh My Girl" rehat

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Anak-anak rentan gangguan mental saat pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar