Dirut BSI : perbankan syariah tumbuh baik karena konsep bagi hasil

Dirut BSI : perbankan syariah tumbuh baik karena konsep bagi hasil

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia TBK Hery Gunardi saat diskusi virtual ISEI Jakarta, Rabu (17/3)

Di syariah tentunya konsep bagi hasil atau kami namakan profit dan loss sharing ini memberikan fleksibilitas, baik pemilik dana maupun perbankan untuk bisa melakukan adjusment pada saat kondisi kurang menguntungkan.
JAKARTA (ANTARA) - Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia TBK Hery Gunardi menyebutkan bahwa kinerja perbankan syariah di tengah pandemi COVID-19 masih dapat tumbuh cukup baik karena menerapkan konsep bagi hasil yang tidak dimiliki bank konvensional.

“Di syariah tentunya konsep bagi hasil atau kami namakan profit dan loss sharing ini memberikan fleksibilitas, baik pemilik dana maupun perbankan untuk bisa melakukan adjusment pada saat kondisi kurang menguntungkan,” ujarnya saat diskusi virtual ISEI Jakarta, Rabu.

Baca juga: Erick Thohir targetkan BSI masuk 10 besar bank syariah dunia

Hery mengungkapkan bahwa di 2020 pertumbuhan aset perbankan syariah dan dana pihak ketiga (yoy) masih tumbuh hingga dua digit angka.

“Dari sisi aset masih tumbuh double digit sebesar 13,11 persen pada 2020, di sisi dana pihak ketiga juga mengalami pertumbuhan sebesar 11,88 persen, pembiayaan juga tumbuh positif sebesar 8,08 persen,” kata dia.

Kondisi tersebut, lanjut Hery, lebih baik dibandingkan perbankan konvensional maupun perbankan nasional yang disibukkan kepanikan di segmen kecil dan menengah, konsumer, serta wholesale sepanjang 2020.

Hery menyebutkan aset perbankan konvensional tumbuh 6,73 persen, kemudian dana pihak ketiga yang tumbuh 10,92 persen, namun -3,02 persen dari sisi pembiayaan. Tidak jauh berbeda dengan aset perbankan nasional yang tumbuh 7,12 persen, dana pihak ketiga tumbuh 10,99 persen serta -2,32 persen dari sisi pembiayaan.

Baca juga: Bank Syariah Indonesia targetkan penjualan SR014 sebesar Rp500 miliar

Kendati demikian, Hery menyadari bahwa penetrasi bank syariah di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang mencapai angka 29 persen maupun negara di kawasan timur tengah seperti Saudi Arabia yang menembus angka 63 persen.

“Kalau kita bandingkan dengan negara-negara lainnya di akhir 2020 yang lalu masih sekitar 6,51 persen masih di bawah 7 persen,” ungkapnya.

Namun mengingat penduduk Muslim Indonesia yang mencapai 209,1 juta orang dan didukung sejumlah aspirasi yang telah disampaikan pemerintah untuk memperkuat peran industri keuangan syariah, pihaknya optimistis Bank Syariah Indonesia bisa sesegera mungkin memasuki jajaran 10 besar bank syariah dunia.

“Melalui penggabungan bank syariah himbara diharapkan tercipta neraca dan keuangan yang baik dengan target Rp272 triliun pembiayaan pada 2025 dan pendanaan Rp336 triliun pada 2025,” imbuhnya.

Hingga Desember 2020, Bank Syariah Indonesia berada pada posisi tujuh secara nasional dengan jumlah aset Rp240 triliun dan market share sebesar 2,6 persen.

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BI nilai kehadiran merger bank syariah dorong pertumbuhan ekonomi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar