Solo (ANTARA News) - Lagu Bengawan Solo, siapa tak kenal? Tembang keroncong yang nampaknya memuat kental nuansa lingkungan hidup ciptaan sang maestro berasal dari Kota Solo, Jawa Tengah, almarhum Gesang Martohartono itu telah melegenda.

"Bengawan Solo riwayatmu kini/ sedari dulu jadi perhatian insani// Musim kemarau tak sebrapa airmu/ di musim hujan air, meluap sampai jauh// Mata airmu dari Solo/ terkurung Gunung Seribu/ air mengalir sampai jauh/ akhirnya ke laut// Itu perahu, riwayatmu dulu/ kaum pedagang selalu naik itu perahu," demikian syair tembang karya sang maestro pada tahun 1940 itu.

Inspirasi atas lagu itu secara jelas berasal dari gambaran lingkungan aliran sungai itu.

Setelah Perang Dunia II, pasukan Jepang membawa pulang lagu itu ke negaranya. Lagu itu seakan terus menggelinding, berkumandang, sehingga dikenal masyarakat mancanegara. Dan Sungai Bengawan Solo pun dikenal dunia lantaran lagu ciptaan Gesang yang berpulang pada 20 Mei 2010 dalam usia 93 tahun.

Menurut informasi Badan Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSB) di Surakarta, sungai tersebut mengalir sepanjang 540 kilometer, melewati sejumlah daerah di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Wilayah Sungai Bengawan Solo luasnya sekitar 20.125 kilometer persegi, meliputi Pegunungan Sewu Bengawan Solo, alirannya melalui 20 kabupaten dan kota di Jateng dan Jatim.

Wilayah Jateng yang dilewati aliran sungai itu Wonogiri, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Blora, Rembang, dan Surakarta, sedangkan wilayah Jatim yakni Ngawi, Magetan, Ponorogo, Madiun, Pacitan, Bojonegara, Tuban, Lamongan, Gresik, dan Surabaya.

Kepala Seksi Operasional dan Pemeliharaan, BBWSB Surakarta, Ruhban Ruzziyatno, mengatakan, sejak banjir besar akibat luapan air Sungai Bengawan Solo, pada tahun 1966, pemerintah membentuk BBWSB guna penanggulangan bencana alam itu.

Banjir pada tahun 1966 merendam 90 persen wilayah Kota Solo. Pemerintah membangun waduk Serba Guna Wonogiri yang selesai pada tahun 1982. Waduk itu mengurangi elevasi air dari 4.000 menjadi 400 meter kubik per detik.

Fungsi waduk itu, katanya, sudah terlihat pada tahun 2007. Wilayah Solo yang terendam banjir tinggal sekitar 10 persen.

Ia menyatakan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar aliran sungai itu. Tanaman keras yang mereka tanam di sepanjang tanggul sungai itu bisa mengakibatkan arus air terhambat.

"Akar-akar pohon yang tumbuh di pinggiran tanggul akan mengganggu arus air sehingga akan meningkatkan tingginya permukaan air," katanya.

Tanaman keras juga akan merusak tekstur tanah di bantaran sehingga mudah terkikis arus air yang dapat mengakibatkan rusaknya tanggul.

Bahkan, banyak masyarakat mendirikan bangunan untuk permukiman di bantaran sehingga air sungai yang meluap akan membahayakan mereka.

Ia menjelaskan, sesuai dengan peraturan pemerintah, bangunan permukiman hanya diperbolehkan berdiri sekitar tiga meter dari sisi luar kaki tanggul sungai.

Pemerintah Kota Surakarta berupaya menyelamatkan warganya dari bencana banjir akibat luapan sungai itu antara lain melalui sosialisasi tentang relokasi warga bantaran ke tempat yang relatif lebih aman.

Pemerintah juga berupaya melakukan konservasi di kawasan hulu Bengawan Solo dengan membuatkan daerah resapan. Jika terjadi hujan deras turun di kawasan hulu, air langsung dapat terserap dan tertampung di waduk tersebut.

Selain itu, pemerintah juga membangun tanggul sepanjang daerah aliran sungai dari Kecamatan Nguter Sukoharjo hingga Jurug Solo yang berjarak sekitar 30 kilometer.

Tanggul ditinggikan satu meter dengan lebar lima meter dan jalan dibuat beraspal sebagai sarana petugas mengontrol kondisi sungai setiap saat.

Ia mengakui, air Bengawan Solo yang terlihat keruh saat ini karena terjadi erosi di kawasan hulu dan tengah aliran sungai itu. Sungai itu juga sering kali menjadi tempat warga membuang sampah dan sejumlah industri membuang limbah produksinya.

"Kami sudah ada laporan titik-titik terjadinya pencemaran air Bengawan Solo, sehingga kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk sosialisasi agar masyarakat ikut menjaga kualitas air sungai," katanya.

Pada kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa pada masa lampau masyarakat menggunakan perahu sebagai sarana transportasi. Tetapi kini mereka telah meninggalkan perahu itu seiring dengan kemajuan zaman.

Sekretaris Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Surakarta, Sulistyowati, mengemukakan, fungsi Sungai Bengawan Solo harus dikembalikan melalui rehabilitasi total dari hulu hingga ke hilir.

Konservasi atas kawasan hulu Bengawan Solo di Wonogiri perlu dilakukan karena kawasan itu sebagai resapan air hujan sehingga air tidak langsung mengalir ke hilir dan mencegah banjir.

"Sesuai UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Lingkungan Hidup, bahwa di daerah hulu harus bisa menyerap air hujan sekitar 75 hingga 95 persen. Di daerah tengah air dapat diserap sekitar 50 hingga 70 persen. Kalau hal itu dilakukan, banjir Bengawan Solo tidak akan terjadi," katanya.

Sepanjang daerah aliran Sungai Bengawan Solo yang telah menjadi permukiman, katanya, berdampak terjadinya banjir dan tanah longsor.

Ia menjelaskan, masyarakat yang bermukim di daerah aliran sungai sering dilanda banjir. Mereka direlokasi ke daerah yang lebih aman.

Pemerintah daerah setempat menata kembali kawasan bantaran Sungai Bengawan Solo di wilayah Solo yang telah ditinggalkan warga karena menyadari pentingnya mengikuti program relokasi.

Pemerintah membangun kawasan itu sebagai taman dan hutan kota.

"Proyek penataan kembali kawasan bantaran Sungai Bengawan Solo sebagai taman dan hutan kota dilakukan di Pucang Sawit, Kecamatan Jebres yang untuk tahap pertama menghabiskan dana sekitar Rp296 juta," katanya.

Kawasan tersebut oleh pemerintah daerah rencananya dibangun fasilitas olahraga dan bersantai masyarakat.

Relokasi

Sejak banjir besar Bengawan Solo pada tahun 1966, pemeritah pusat dan daerah terus melakukan penanggulangan banjir, termasuk relokasi warga dari sepanjang bantaran.

Pemerintah Kota Surakarta telah merelokasi warga di enam kelurahan di bantaran Sungai Bengawan Solo. Hingga awal Juni 2010, realisasinya mencapai 966 rumah.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Pemkot Surakarta, Widdi Srihanto, mengatakan, sasaran relokasi itu sebanyak 1.571 unit rumah warga tetapi realisasnya hingga saat ini sebanyak 966 rumah dan hingga saat ini masih tersisa 605 rumah.

"Dari 605 rumah warga di bantaran yang belum terealisasi, 525 unit yang merupakan tanah hak milik, 16 unit masih dalam proses administrasi mencairan bantuan relokasi, dan 64 unit dinyatakan gugur karena tidak dapat memenuhi persyaratan," katanya.

Ia menjelaskan, pemilik 966 rumah yang telah direlokasi ke daerah aman mendapatkan bantuan berupa dana senilai Rp8,5 juta setiap rumah untuk pembangunan. Pemkot setempat juga memberikan bantuan senilai Rp12 juta per rumah untuk pengadaan tanah.

"Dana bantuan pembangunan rumah bagi warga bantaran dari APBN dan pembelian tanah relokasi dari APBD. Jadi totalnya mereka dapat Rp20,5 juta per rumah," katanya.

Realisasi program relokasi rumah bantaran di enam kelurahan di Kota Surakarta yakni Pucang Sawit sebanyak 268 unit, Sewu 213 unit, Sangkrah 108 unit, Semanggi 159 unit, Joyosuran 47 unit, dan Jebres 171 unit.

Enam kelurahan tersebut, kata dia, merupakan daerah banjir akibat luapan Bengawan Solo. Pemkot berupaya melindungi warganya di daerah bataran dengan merelokasi mereka ke wilayah yang lebih aman.

Ia mengatakan, program hibah pemkot pascabanjir Bengawan Solo tahun 2007 untuk relokasi rumah warga bantaran dengan prioritas pembangunan permukiman.

Seorang warga RT3/RW7 Kampung Sewu, Kecamatan Jebres, Wawan, mengatakan, pemkot telah merelokasi 213 rumah di kampung itu dan hingga saat ini masih tersisa tujuh rumah karena pemiliknya belum bersedia pindah.

Banjir Bengawan Solo tahun 2007, katanya, mengakibatkan sebanyak 363 rumah terendam air dan 30 unit di antaranya berada di daerah paling rendah.

Warga setempat, katanya, masih berharap realisasi pembangunan rumah pompa agar luapan Bengawan Solo yang mungkin terjadi sewaktu-waktu bisa dipompa dan dialirkan ke anak sungai itu.

"Jika rumah pompa sudah dibangun, banjir akibat luapan Bengawan Solo di kampung dapat diatasi," katanya.

Berbagai upaya ditempuh agar air Bengawan Solo mengalir sampai jauh, seakan seiring dengan alunan tembang keroncong karya sang maestro itu.***3***

B018/J006

Oleh Bambang Dwi Marwoto
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010