Olimpiade

Penyelenggara pamer kampung atlet sebulan jelang Olimpiade Tokyo

Penyelenggara pamer kampung atlet sebulan jelang Olimpiade Tokyo

Foto udara Olympic Village untuk Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020 di Tokyo (28/2/2020). ANTARA/REUTERS/Tsuyoshi Matsumoto/aa.

Kami akan memasang lentera untuk memberikan sedikit nuansa tradisional Jepang pada area tersebut
Jakarta (ANTARA) - Penyelenggara Olimpiade Tokyo membuka kampung atlet untuk media, Minggu, memamerkan apartemen dan alun-alun perbelanjaan berlapis kayu di mana 11.000 atlet akan tinggal dan berbaur selama acara olahraga tersebut.

Olimpiade, yang ditunda satu tahun, akan dimulai pada 23 Juli di tengah kekhawatiran bahwa masuknya ribuan orang dari seluruh dunia akan berkontribusi pada penyebaran virus corona baru.

Jepang memiliki angka kasus COVID-19 lebih kecil dibanding banyak negara lain. Namun, program vaksinasi di negara tersebut dinilai lambat yang membuat sistem medis kewalahan.

Baca juga: IOC: Kampung Atlet harus jadi tempat teraman di Tokyo

Sementara, upaya pemerintah untuk menyelenggarakan Olimpiade telah dikritik oleh rumah sakit dan serikat dokter, yang khawatir penyelenggaraan acara tersebut dapat semakin membebani sistem medis Jepang.

Para atlet akan keluar masuk kampung dengan kendaraan khusus dan melakukan tes COVID-19 setiap hari. Aturan Olimpiade melarang sorakan dan nyanyian selama acara dan mengharuskan atlet untuk memakai masker setiap saat kecuali saat di luar ruangan, tidur atau makan.

Area perbelanjaan dilengkapi dengan ATM, layanan binatu, kantor pos, bank dan konter kurir.

"Kami akan memasang lentera untuk memberikan sedikit nuansa tradisional Jepang pada area tersebut," kata direktur biro pemasaran Tokyo 2020, Yoshie Ogawa, dikutip dari Reuters.

Bangunan terbuat dari kayu, yang mengacu pada estetika desain minimalis Jepang, mengikuti tema Tokyo 2020 menggunakan kayu dalam pembangunan venue Olimpiade, termasuk Stadion Nasional.

Baca juga: Lima kuliner khusus yang disajikan di kampung atlet Olimpiade Tokyo

Area perbelanjaan terbuat dari 40.000 potongan kayu yang disumbang dari 63 pemerintah kota Jepang. Setiap bagian yang disumbang ditandai dengan nama daerah yang menyediakan kayu.

Setelah Olimpiade, bangunan tersebut akan dibongkar, dan kayu akan dikembalikan ke kota-kota yang menyumbang untuk digunakan kembali di fasilitas lokal.

Kompleks apartemen yang berbatasan dengan alun-alun perbelanjaan dibangun di atas tanah reklamasi, dan dirancang untuk menampung sekitar 12.000 orang di 23 bangunan, termasuk toko, taman dan sekolah. Bangunan akan diubah menjadi tempat tinggal atau flat setelah Olimpiade.

Pengembangan proyek perumahan ini menelan biaya 54 miliar yen (sekitar Rp7,1 triliun) bagi pemerintah Tokyo, termasuk jalan dan infrastruktur.

Penyelenggara awalnya berencana untuk menyediakan makan di ruang makan yang luas -- dengan kapasitas 4.500 orang. Namun sekarang, penyelenggara akan meminta atlet untuk makan sendiri, menjaga jarak sosial dengan orang lain, dan mengelap permukaan meja setelah makan untuk membatasi penyebaran virus corona.

Baca juga: Olimpiade Tokyo kembali pangkas jumlah ofisial dari luar negeri
Baca juga: Jepang batasi 10.000 penonton setelah keadaan darurat COVID-19

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar