Anak di bawah 2 tahun jangan diberi serat terlalu banyak

Anak di bawah 2 tahun jangan diberi serat terlalu banyak

Ilustrasi anak akan menyantap hidangan sayuran (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang dari Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang, Fitri Hartanto mengatakan, anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tak mendapat asupan serat terlalu banyak.

"Lambung anak kecil, diisi dengan serat padahal serat dicernanya lama. Artinya anak kenyangnya jadi lebih lama, yang terjadi tidak mau makan, kebutuhannya tidak terpenuhi, banyak masalah pertumbuhan yang terjadi," kata dia di sela webinar mengenai kesehatan anak, Kamis.

Mengutip informasi dari Kementerian Kesehatan, anak usia 0-6 bulan belum memiliki kecukupan serat yang dianjurkan, sementara anak usia 6-11 bulan kebutuhan seratnya sekitar 10 gram per hari. Jumlah asupan serat yang dibutuhkan anak pun meningkat seiring pertambahan usianya.

Ketimbang terlalu fokus pada serat, Fitri yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Jawa Tengah itu mengingatkan orang tua pentingnya asupan zat gizi lain yang harus tercukupi, salah satunya lemak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan lemak di bawah usia 2 tahun adalah 35-45 persen dari total energi.

Baca juga: Anak Shandy Aulia dihina, begini kriteria kurang gizi menurut pakar

"Anak kurang dari 2 tahun tidak dianjurkan merestriksi lemak karena perlu tinggi lemak untuk mencukupi kebutuhan energi. Buah dan sayur kebutuhannya sangat sedikit di bawah usia 2 tahun sehingga kita tahu apa yang baik orang tua tak selalu baik untuk anak. Lemak baik untuk anak tidak baik untuk dewasa. Serat baik untuk dewasa tetapi belum baik untuk anak usia di bawah 2 tahun," kata dia.

Anak usia 6-8 bulan contohnya, membutuhkan 60-90 kkal lemak per hari, sementara anak usia 9-11 bulan biasanya kebutuhannya lemaknya setiap hari 90-130 kkal. Jumlah kebutuhan lemak meningkat menjadi 170-250 kkal per hari pada anak berusia 12-23 bulan.

Di sisi lain, IDAI juga mengingatkan orang tua tidak mengutamakan karbohidrat sebagai komposisi makanan anak, melainkan juga memperhatikan asupan gizi lainnya seperti protein. Komposisi protein yang diperlukan yakni 10-15 persen dari total kalori.

Anak usia 6-8 bulan misalnya, membutuhkan 20-30 kkal protein setiap harinya, kemudian 30-45 kkal untuk anak usia 9-11 bulan dan jumlahnya meningkat menjadi 55-80 kkal per hari pada anak berusia 12-23 bulan.

Untuk memudahkan, contoh konsumsi lauk pauk sumber protein anak usia 12-23 bulan seperti telur 2-3 butir per hari, daging ayam atau ikan 80-120 gram per hari, 75-90 gram hati ayam.

Sumber lemaknya bisa meliputi 50 gram santan per kali makan atau dengan 1 sendok teh margarin/mentega/minyak goreng per kali makan, bisa pula diganti minyak kelapa, minyak jagung atau minyak kedelai.

Untuk sayur dapat diberikan 1/3 gelas (setelah dimasak) per harinya. Buah-buahan dapat diberikan ½ potong atau ¼ gelas buah segar dan sebagai pelengkap dapat diberikan produk dairy seperti susu, yoghurt sekitar 2 sampai 3 gelas per hari (1 porsi = 250 ml).

Baca juga: Anak wajib berolahraga 60 menit setiap hari

Baca juga: Pakar sebut ada tiga masalah kesehatan pada anak saat pandemi COVID-19

Baca juga: Jaga imunitas anak di masa pandemi COVID-19 dengan mencukupi gizi

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Jumat Berbagi sasar anak kurang gizi di Kecamatan Padang Timur

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar