Kalianda, Lampung Selatan (ANTARA News) - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih berstatus waspada namun jumlah letusan cenderung fluktuatif, demikian seorang petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Selasa.

Berdasarkan pengamatan dari Selasa pukul 00.01 hingga 12.35 WIB jumlah letusan tercatat 116 kali, kata petugas itu, Hamdani, di Desa Hargopancuran, Rajabasa, Lampung Selatan.

Kemudian, gempa vulkanik dangkal 45 kali, vulkanik 32 kali, tremor 29 kali dan 35 kali hembusan.

Senin pada waktu yang sama tercatat letusan 121 kali, gempa vulkanik 30 kali, gempa vulkanik dangkal 28 kali dan gempa tremor 31 kali serta hembusan 30 kali.

"Ketinggian semburan abu dan debu vulkanik mencapai antara 600 sampai 1.000 meter," kata Hamdani.

Gunung Anak Krakatau masih berstatus waspada seperti hari sebelumnya dengan intensitas letusan tidak jauh berbeda.

Dia menjelaskan, warga masih aman dari semburan abu dan debu vulkanik tersebut karena jarak gung sekitar 15 kilometer dari pemukiman penduduk di Pulau Sebesi.

Menurutnya, debu dan abu vulkanik tersebut mengarah ke selatan atau daerah sekitar Pantai Carita atau Anyer Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.

Seorang warga Desa Kunjir Kecamatan Rajabasa, Efendi, mengatakan, sementara ini warga di daerahnya tidak khawatir dengan meningkatnya aktivitas gunung berapi tersebut.

Dia mengatakan, aktivitas gunung itu sudah rutin setiap tahun sehingga warga sudah hafal sekali kondisi itu, bahkan nelayan masih tetap melaut di sekitar Gunung Rakata yang berdampingan dengan Gunung Anak Krakatau.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan sendiri mengimbau warga tetap waspada karena aktivitas lebih besar dapat terjadi tanpa diduga oleh warga. (*)

ANT/T013/AR09

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010