Jakarta (ANTARA News) - BUMN Watch mendesak Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) ikut menyelidiki secara mendalam rencana penawaran saham perdana (IPO) PT Krakatau Steel (KS) yang kini menjadi kontroversi di masyarakat.

"Hal itu penting, mengingat kasus ini menyangkut Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang terindikasi berpotensi merugikan keuangan negara tidak kurang dari Rp2,5 triliun. Untuk ini Bapepam harus segera bertindak, jangan diam saja," tegas Ketua Umum BUMN Watch, Naldy Nazar Haroen di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data yang dikumpulkan BUMN Watch, Naldy menjelaskan bahwa proses penentuan harga saham PT KS sebesar Rp850 per saham sangat tidak masuk akal. Karena selama "roadshow", jumlah penawar dengan harga Rp1.150-Rp1.200 per saham mungkin jauh lebih banyak dibanding dengan penawar dengan harga Rp850 per lembar saham.

Pertanyaannya, jika jumlah penawar dengan harga di atas Rp1.000 per saham jauh lebih banyak, mengapa dipatok Rp850 per saham.

"Inilah yang harus diungkap oleh Bapepam seterang-terangnya. Berapa banyak penawar di atas harga Rp1.000 dan berapa banyak yang menawar dengan harga Rp850. Lalu siapa saja yang sudah mendapatkan jatah pembelian saham. Karena berdasarkan data yang diperoleh BUMN Watch, saat ini saja sudah banyak politisi yang menawarkan saham PT KS, dengan harga Rp935 atau 10 persen di atas harga yang sudah diplot," ungkap Naldy.

Di mata para penjamin emisi (underwriter) harga penawaran saham perdana PT Krakatau Steel, sudah layak, tidak terlalu murah.

Direktur Utama Mandiri Securitas Harry M Supoyo, sebelumnya menjelaskan penawaran harga IPO PT Krakatau Steel sebesar Rp850 per saham itu sudah mencerminkan rasio harga terhadap laba bersih (price to earning ratio/PER) sebesar 9,9 kali berdasarkan proyeksi laba tahun 2010.

Namun hal tersebut dinilai Naldy sebagai kebohongan publik, dan tidak jelas dasarnya. Karena menurut dia, harga saham PT KS bisa berkisar antara 20-21 PER, bukan 9,9 kali berdasarkan proyeksi laba tahun 2010.

"Apalagi saat ini kondisi pasar modal sedang membaik, harga-harga saham meningkat, kok harga saham PT KS diplot rendah?" ujar Naldy.

Bahkan menurut Naldy, tidak benar dengan memplot harga yang sangat rendah akan bisa mendorong perkembangan pasar sekunder sebagaimana diungkapkan Direktur Utama Bahana Sekuritas, Eko Yuliantoro. Karena perkembangan pasar sekunder ditentukan banyak faktor, utamanya kondisi keamanan yang kondusif.

Sebagaimana diketahui, periode penawaran saham PT KS ini telah dilakukan pada 2-4 November 2010 dan pencatatan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) rencananya akan dilakukan pada 10 November 2010. (*)

(T.F004/B012/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010