Bangkok (ANTARA News) - Petani Thailand membatalkan rencana mengemudikan traktor beriringan menuju bandar udara di Bangkok untuk memrotes aturan subsidi beras yang tidak dibayarkan, setelah mereka mendapat jaminan akan menerima hak mereka, kata juru bicara.

Langkah itu menjadi berita baik bagi Perdana Menteri Yingluck Shinawatra.

Program subsidi beras merupakan salah satu kebijakan populis yang dibuat saudara laki-laki Yingluck, mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra yang menjadi pusat konflik yang selama bertahun-tahun memecah belah Thailand serta memicu protes, terkadang disertai kekerasan, yang melumpuhkan sebagian ibu kota selama beberapa minggu.

Petani mengatakan ingin melakukan aksi protes simbolis, tanpa ada niat memblokir lalu lintas udara seperti yang terjadi pada 2008, saat pengunjuk rasa memaksa dua bandara utama di Bangkok ditutup selama lebih dari seminggu.

Mantan anggota parlemen Chada Thaiseth, berbicara atas nama para petani yang berkumpul di provinsi Ayutthaya mengatakan mereka sudah mendapat jaminan pembayaran.

"Pemerintah akan membayar minggu depan. Para petani akan mundur sekarang dan melihat apakah pemerintah akan membayar seperti janjinya," katanya, "Jika tidak, kami akan kembali."

Ia mengatakan pembayaran akan dilakukan melalui bank milik pemerintah Bank for Agriculture and Agricultural Cooperatives mulai pekan depan.

Televisi Reuters memperkirakan jumlah petani yang berunjuk rasa berkisar antara 2.000 hingga 3.000 dalam konvoi 800 traktor, dan dipastikan akan menyebabkan kekacauan lalu lintas selama berjam-jam jika aksi tersebut benar-benar dilakukan.

Program beras tersebut penting bagi basis dukungan Yingluck di kawasan miskin di utara dan timurlaut Thailand.

Subsidi untuk petani menjadi kebijakan utama yang membawanya ke pucuk kekuasaan pada 2011. Namun subsidi itu menyebabkan pasokan beras Thailand menggunung dan menghadapi masalah pendanaan.

Pemimpin oposisi mengatakan skema tersebut penuh dengan korupsi. Kerugian yang ditanggung pembayar pajak sekitar 200 miliar baht (6 miliar dolar AS) per tahun, memantik kemarahan kelas menengah dan kaum urban terhadap Yingluck.

Yingluck dan pemerintahannya diperiksa oleh komisi anti korupsi atas dugaan penyimpangan dalam skema subsidi tersebut.

Kemarahan petani karena tidak dibayar serta penyelidikan atas program subsidi muncul saat Yingluck menghadapi unjuk rasa jalanan selama hampir empat bulan untuk menggulingkannya.

Empat pengunjuk rasa dan seorang polisi tewas pada Selasa, saat polisi berupaya merebut kebali lokasi protes di dekat gedung pemerintah yang diduduki pengunjuk rasa selama berminggu-minggu.

Para pengunjuk rasa ingin menyingkirkan pengaruh Thaksin, yang dinilai sebagai kekuasaan sebenarnya di belakang pemerintah.

Pada Kamis, mereka menyasar bisnis keluarga Shinawatra, sehingga menyebabkan harga sahamnya turun.

"Jika Anda mencintai negara ini, berhenti gunakan produk-produk Shinawatra dan lakukan semampunya untuk menggagalkan bisnis mereka," kata pemimpin protes Suthep Thaugsuban di hadapan pendukungnya, Rabu.

Saham SC Asset Corp, perusahaan pengembang yang dijalankan Yingluck sebelum ia terjun ke dunia politik pada 2011, turun 1,3 persen pada Jumat setelah dalam dua hari sebelumnya turun 6,5 persen menyusul komentar Suthep tersebut.

Gelombang unjuk rasa tersebut merupakan bagian terakhir dari kekisruhan politik selama delapan tahun yang menghadapkan kelas menengah dan pendukung kerajaan dengan pendukung Yingluck yang sebagian besar berasal dari wilayah pedesaan.

Pengunjuk rasa menuding Thaksin melakukan nepotisme dan korupsi serta sebelum digulingkan pada 2006 dalam sebuah kudeta, ia menggunakan uang pembayar pajak untuk subsidi populis seperti skema beras serta pinjaman lunak sehingga ia berhasil merangkul jutaan pendukung setia.

(S022)


Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014